*Penulis senior GNFI

Saya waktu sekolah di University of London tahun 1987, mendapat pertanyaan dari seorang mahasiswi muda dari Taiwan “apakah di Indonesia masih ada head-hunter” – manusia yang hidupnya dihutan dan memburu kepala manusia, mahasiswi ini masih berfikiran bahwa Indonesia itu terbelakang, masih hidup di alam jaman batu. Memang orang diluar negeri tahunya hanya pulau Bali. Tahun 2016 ketika saya di New York Amerika Serikat, selalu mengulang- ulang penjelasan kepada orang Amerika Serikat yang saya jumpai tentang Indonesia mempunyai 17.000 pulau dan besar negaranya itu hampir sama dengan jarak dari West Coast sampai East Coast di AS. Kebanyakan mereka terkejut dengan penjelasan saya itu, karena baru tahu informasi seperti tentang Indonesia.

Kita semua juga seperti mereka itu, memiliki sedikit pengetahuan tentang negara-negara Afrika. Umumnya kita tahu Afrika itu penduduknya banyak yang miskin, kelaparan di padang pasir, tanah-tanahnya kering, sering ada pemberontakan, penculikan dan pembunuhan, banyak penduduk tinggal di pemukiman yang kumuh yang makan makanan yang tidak bergizi, orang-orangnya terbelakang dsb. Saya terkejut (seperti orang Amerika yang terkejut mendengar penjelasan saya tentang Indonesia) ketika Duta Besar Indonesia untuk Ethiopia, Jibouti dan Uni Afrika Bapak Al Busyra Basnur menjelaskan bahwa MRT di ibu kota Ethiopia – Addis Ababa lebih dahulu pembangunannya dibandingkan dengan MRT yang di Jakarta, dan menjelaskan beberapa negara Afrika yang perkembangan perekonomianya sangat pesat dan maju.

Salah satu sudut kota Dakar, ibukota Senegal | tripsavvy.com

info gambar

Saya memarahi diri sendiri karena cara berfikir saya tentang Afrika ini seperti media barat menjelaskan tentang benua ini. Saya bukannya tidak mengikuti berita-berita dari Afrika, tapi yang saya ikuti cuma soal pemberontakan, penggulingan kekuasaan negara, penculikan dan pembunuhan yang dilakukan kelompok Boko Haram atau kelompok Al-Shabab. Saya tidak jeli melihat Afrika dari sisi lain; misalnya dari segi pembangunan ekonominya. Setelah saya cari di google berbagai ibu kota (termasuk bandaranya) negara-negara Afrika, saya terkejut dengan foto-foto begitu megahnya panorama ibu-ibu kota itu.

Michael Newel yang menulis laporan di World Finance bulan Maret 2019 tentang lima negara di benua Afrika yang kemajuan ekonominya menakjubkan; tulisan dia ini berdasarkan data dari The World Economic Forum. Kemajuan ekonomi Afrika itu dikarenakan baik karena kebijakan dalam negeri masing-masing negara, maupun banyaknya investasi asing langsung atau Foreign Direct Investment. Karena itu Afrika menjadi “become home to some of the world’s fastest-growing economies”.

Berikut lima negara yang dimaksud:

  1. Ethiopia (dengan 8.5% GDP growth rate)

Seperti yang dikatakan Duta Besar Indonesia untuk Ethiopia pada saat acara zoom dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Unair, pembangunan infrastruktur negara ini sangat cepat dan masiv sehingga mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Kebijakan pembangunan infrastruktur dan investasi disertai dengan kebijakan mendorong ekspor menyebabkan negara ini menjadi salah satu negara paling maju dibenua afrika.

  1. Negara Pantai Gading atau Ivory Coast (NCôte d’Ivoire) dengan 7.4% GDP growth rate).

Seperti halnya negara Ethioia, negeri Pantai Gading ini perkembangan ekonominya yang pesat karena ditunjang kebijakan investasi yang menarik, pembangunan infrastruktur dan hasil produk dari daerah pantainya yang didiami 7,5 juta penduduk dan menyumbang 80% GDP nya.

  1. Senegal (dengan 7% GDP growth rate)

Senegal adalah salah satu negara di Afrika yang stabil kondisinya setelah melalui tiga kali transisi politik dengan damai dan setelah merdeka dari Perancis tahun 1960. Negara ini bergantung dari sektor pertanian (15,4% dari GDP nya), tapi sangat bagus membangun sektor pariwisatanya terutama didaerah pantai dan menjadikannya sebagai pusat perdagangan.

  1. Tanzania (dengan 6.4% GDP growth rate)

Tanzania merupakan negara yang memiliki perkembangan tercepat kedua di Afrika. Meskipun negara ini juga sangat tergantung pada sektor pertanian, namun Tanzania berhasil menjadikan negaranya sebagai pusat keuangan di kawasan Afrika. Negara ini juga diuntungkan dengan tingkat deficit keuangan negara yang rendah sekitar 2,1% pada tahun 2018 menjadikan negaranya sangat menarik bagi investasi luar negeri.

Darres Salam Ibu Kota Tanzania.

  1. Ghana (dngan 6.3% GDP growth rate)

Ghana merupakan negara yang bertetangga dengan negara Pantai Gading dan Ghana memiliki sumber daya alam yang besar dan merupakan negara produsen terbesar kedua di Afrika emas serta memiliki sumber daya alam berupa berlian dan minyak. Kebijaksanaan tariff perdagangannya menyebabkan meningkatnya ekspor.

Memang kita perlu melihat kemajuan berbagai negara baik dikawasan ASEAN maupun di benua lain, agar kita bisa melakukan evaluasi tentang perkembangan kemajuan kita sendiri.



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here