Tren penggunaan teknologi baterai dalam industri elektronik telah berlangsung selama lebih dari 2 dekade. Utamanya sejak penerapan sistem Lithium-ion battery yang digawangi oleh Sony (Jepang) pada 1991.

Dalam kurun waktu beberapa tahun ke belakang, tren pengaplikasian teknologi baterai telah jauh bergeser pada industri pendukung pembangkit listrik tenaga surya maupun industri otomotif. Tak ingin ketinggalan, pemerintah Indonesia pun saat ini tengah menggagas berbagai program untuk menuju percepatan pengembangan industri baterai tanah air.

Akhir pekan pertama bulan Februari (06/02) lalu menjadi saat-saat spesial yang dipilih oleh Forum Komunikasi Ikatan Alumni Metalurgi dan Material Indonesia, yang digawangi oleh ILUMET FTUI, IA Teknik Metalurgi ITB, Keluarga Alumni Material ITB, Ikamat ITS, IKAMET UNJANI, ALUMET UNTIRTA, IAM UTS, dan Perhimpunan Mahasiswa Metalurgi Material se-Indonesia (PM3I) untuk menyebarkan awareness tentang “Perkembangan, Potensi, dan Tantangan Teknologi Baterai di Indonesia sebagai Energi Masa Depan”.

Agenda Seminar Nasional Baterai 2021 tersebut menghadirkan Menteri Riset dan Teknologi /Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional RI, Prof. Bambang Brodjonegoro, S.E., M.U.P., Ph.D. yang membuka sekaligus menyampaikan tentang pentingnya mengembangkan inovasi teknologi tepat guna yang dapat meningkatkan nilai tambah tingkat komponen dalam negeri (TKDN) serta menjadi substitusi impor.

Menurutnya, dalam program prioritas riset nasional tahun 2020-2024 baterai lithium merupakan salah satu sektor yang turut menjadi prioritas utama, yang pemanfaatnya dapat diaplikasikan melalui kendaraan listrik serta sistem penyimpanan energi untuk pembangkit listrik energi terbarukan.

“Bahkan Kemenristek/BRIN sudah mengembangkan beberapa produk inovasi sebagai bentuk pengaplikasian teknologi baterai lithium, diantaranya adalah fast charger, baterai fast charging, daur ulang baterai, material baterai, hingga pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB),” papar Prof. Bambang Brodjonegoro.

Selain menghadirkan Menteri Ristek/BRIN RI, hadir pula Ir. Agus Tjahajana Wirakusuma, S.E., M.Sc., Komisaris Utama MIND ID dan Ketua Tim Percepatan Pengembangan Electric Vehicle (EV) Battery Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, Ir. Agus Tjahajana memberikan gambaran tentang pengembangan ekosistem baterai dari hulu hingga ke hilir.

Menurut keterangannya, Tim Percepatan Pengembangan EV Battery ini dibentuk oleh Menteri BUMN, Erick Thohir, kira-kira pada awal tahun 2020. Tim tersebut terdiri dari empat perusahaan yaitu Mining Industry Indonesia (MIND ID), yang merupakan Holding Industri Pertambangan Indonesia, lalu ada juga PT. ANTAM Tbk., PT. Pertamina (Persero), dan PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero).

Roadmap yang akan dijalankan oleh tim tersebut diantaranya, pada 2021 PLN diharapkan bisa mulai menggunakan energy storage system (ESS) pada beberapa regional. Harapannya PLN tidak hanya membeli langsung instrumen ESS, akan tetapi dapat dimulai dengan pembelian komponennya, sehingga ada pengalaman mempelajari sistem dan merakit dari awal.

Selain itu, akan ada pemberlakukan perjanjian kerja dan penandatanganan kesepakatan-kesepakatan penting yang akan dilangsungkan di tahun ini (2021). Selanjutnya para produsen otomotif di Indonesia diproyeksikan untuk memulai produksi EV secara domestik pada tahun 2022. Lalu di 2024 High Pressure Acid Leach (HPAL) plant untuk pemurnian nikel, serta produksi pecursor dan katoda mulai dioperasikan oleh ANTAM, Pertamina, dan MIND ID.

Kemudia pada 2025, cell to pack plant untuk baterai akan dijalankan oleh Pertamina dan PLN. Dan di 2026 nanti, saat perhitungan melibatkan keberadaan Ibukota baru, harapannya adopsi pemanfaatan 100 % EV bisa dicapai di sana.

“Serta nanti kita juga mempersiapkan untuk fasilitas battery recycling bisa beroperasi di tahun 2027. Di mana perencanaan ini kami perhitungkan sebelum datangnya pandemi,” terang Ir. Agus Tjahajana.

Pemaparan Ir. Agus Tjahajana tentang pengembangan ekosistem industri baterai untuk sistem kendaraan listrik di Indonesia

info gambar

Acara utama dari seminar nasional daring yang dimoderatori oleh founder National Battery Research Institute (NBRI) dan President dari Material Research Society Indonesia (MRS-INA), Prof. Dr.rer.nat. Evvy Kartini, ditutup dengan pemaparan riset aplikatif teknologi baterai sekunder Li-ion dengan memanfaatkan bahan baku dari Indonesia. Pemaparan tersebut disampaikan langsung oleh Dr. Afriyanti Sumboja, dosen pengajar di Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB, yang juga merupakan peraih LIPI Young Scientist Award 2020.

Dalam paparannya, Dr. Afriyanti cukup banyak menjelaskan tentang prinsip kerja baterai Li-ion, upaya peningkatan energy density untuk baterai Li-ion, hingga pemanfaatan katoda baterai berbasis nikel, termasuk di dalamnya proses produksi serta tantangan dalam pengembangannya. Tak lupa, beliau juga mengajak para saintis di Indonesia untuk saling bersinergi dan berkolaborasi.

“Indonesia ini kaya dengan sumber daya nikel lebih dari 21 juta ton. Jika kita mempertimbangkan pengembangan prekursor Ni dengan tingkat kemurnian tinggi untuk mencapai Ni grade baterai, maka perlu adanya pendekatan interdisiplin untuk penguatan industri baterai di Indonesia,” ungkapnya.

Nah, sekarang Kawan GNFI jadi lebih tahu kan tentang perkembangan dan potensi industri baterai di Indonesia? Tunggu apa lagi, lekas ambil bagian di dalamnya!*



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here