BNN atau Polri Duluan Yang Ungkap Rekening Gendut Rp 120 Triliun, Temuan PPATK?

  • Whatsapp
BNN atau Polri Duluan Yang Ungkap Rekening Gendut Rp 120 Triliun, Temuan PPATK?


Repost Beritasenator.com: Pakar Sarankan Polri Tindaklanjuti Rekening Jumbo Sindikat Narkoba, Rp 120 Triliun

Pakar sarankan Polri tindaklanjuti rekening jumbo sindikat narkoba. Penyelidikan terkait TPPU.

Apa itu TPPU?

Tindak Pidana Pencucian Uang Pencucian Uang adalah segala perbuatan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini.

Transaksi Keuangan yang diminta oleh PPATK untuk dilaporkan oleh Pihak Pelapor karena melibatkan Harta Kekayaan yang diduga berasal dari hasil tindak pidana.

Hal ini sangat penting untuk mengungkap pengedarnya melalui penelusuran hasil kejahatannya dan aset hasil kejahatan narkotika dilakukan pembuktian terbalik di pengadilan.

Mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen (Pur) Anang Iskandar menyarankan Polri atau BNN, segera menindaklanjuti temuan PPATK terkait rekening jumbo Rp120 triliun.

Rekening jumbo diduga milik sindikat narkoba, karena dapat menjadi ancaman bagi pemerintah.

Anang yang dihubungi kantor berita ANTRA di Jakarta, Jumat, menyebutkan temuan beberapa rekening dengan jumlah Rp120 triliun.

Berkait, komennnya di sebuah majalah MATRA yang mengutip Kepala Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK) nominalnya melebihi APBD DKI.

Uang itu, kata Anang bisa untuk rehabilitasi penyalahguna narkoba. Sebaliknya, apabila digunakan untuk hal-hal yang negatif bisa menjadi ancaman bagi pemerintah.

“Laporan PPATK penting ditindaklanjuti dengan penyelidikan dan penyidikan agar mendapatkan kejelasan tentang asal usul dananya,” kata Anang.

Menurut Kepala BNN periode 2012-2015 ini, Kepala PPATK Dian Ediana Rae belum menjelaskan kepada siapa Informasi Hasil Analisis (IHA) terkait temuan rekening jumbo tersebut diberikan apakah kepada BNN atau Polri.

  • Baca juga: Rekening Gendut 120 Triliun Rupiah, Milik Siapa?

Namun, kata dia, yang terpenting adalah laporan temuan PPAT tersebut segera ditindaklanjuti baik oleh Polri maupun BNN.

Ia mengatakan dalam bisnis gelap narkoba sangat memungkinan nilai transaksi cukup besar, bahkan bisa lebih besar dari Rp120 triliun tersebut.

Untuk itu, lanjut Anang, Polri perlu menelusuri tindak pidana pencucian uang (TPPU) dari kejahatan sindikat narkoba tersebut.

“Penyelidikan terkait TPPU sangat penting untuk mengungkap pengedarnya melalui penelusuran hasil kejahatannya dan aset hasil kejahatan narkotika dilakukan pembuktian terbalik di pengadilan,” ujar Dosen Sekolah Kajian Strategik Universitas Indonesia tersebut.

Apabila tidak dapat dibuktikan sebagai aset yang sah, lanjut Anang, aset tersebut dirampas untuk kepentingan Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahguna dan Peredaean Gelap Narkova (P4GN) dan rehabilitasi penyalahguna narkotika.

“Ya uang “kotor” tersebut perlu telusuri dimana disembunyikan dan lari kemana, itu sebabnya perlu dikejar dengan TPPU,” ujar Anang.

Kepala PPATK Dian Ediana Rae pada wawacara di Podcast edisi khusus menjawab 120 T yang diunggal di kanal YouTube milik PPATK pada Rabu (6/10), menyampaikan bahwa sebelum menyampaikan persoalan rekening Rp120 triliun tersebut di Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi III DPR RI, pihaknya telah memberikan informasi terkait itu kepada lembaga terkait.

Dian juga mengatakan informasi rekening jumbo Rp120 triliun tersebut merupakan angka konservatif yang ditotalkan dari transaksi selama periode 2016 sampai dengan 2020.

Lebih lanjut dia mengatakan kasus aliran dana Rp120 triliun itu melibatkan pihak yang terlapor melibatkan sejumlah orang dan sejumlah korporasi.

Totalnya ada 1.339 individu dan korporasi yang PPATK periksa dan catat sebagai aliran transaksi keuangan yang mencurigakan yang datang dari tindak pidana narkoba.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *