Dibawah Kendali Taliban, Harga Opium di Afghanistan Gila-Gilaan

  • Whatsapp
Seorang petani Afghanistan mengumpulkan opium mentah saat dia bekerja di ladang opium di Distrik Khogyani, provinsi Nangarhar pada 29 April 2013. AFP/Getty Images/Noorullah Shirzada



PramborsNews.com – Pasca berkuasanya kembali Taliban di Afghanistan, perekonomian di negara itu langsung mengalami krisis dan di ambang kehancuran. Namun menariknya pada saat yang sama harga opium di Afghanistan justru meroket.

Meski menjual opium yang tergolong narkotika dilarang dalam Islam, namun warga Afghanistan yang mayoritas muslim tetap nekat berjualan opium.

Amanullah dan rekannya Muhammad Masoom warga Kota Kandahar, Afghanistan sangat memahami jika opium adalah barang yang sangat diharamkan dalam Islam. Namun ia mengaku terpaksa menjual opium karena tak punya pilihan lain saat ini.

“Itu haram (dilarang) dalam Islam, tapi kami tidak punya pilihan lain,” kata Masoom, di pasar di dataran gersang Howz-e-Madad, di provinsi Kandahar, Sabtu (09/10/2021).

Sejak Taliban berkuasa di Afghanistan, harga opium yang telah diubah menjadi heroin baik di Afghanistan, Pakistan dan Iran telah meningkat tiga kali lipat harganya.

Masoom mengungkapkan penyelundup sekarang membayarnya 17.500 PKR (Rp1,4 juta) per kilogram. Di Eropa ia memiliki nilai harga jalanan lebih dari USD50 (Rp713.000) per gram.

Ia mengatakan sebelum Taliban mengambil alih kekuasaan di Afghanistan harga opium hanya sepertiga dari sekarang ini.

Hal yang sama dikatakan oleh Zekria seorang petani opium. Zekria menyebut harga opium di Afghanistan sekarang ini sedang meroket.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Ia mengaku sekarang mendapat lebih dari 25.000 PKR (Rp2 juta) per kilo, naik dari 7.500 (Rp626.000) sebelum Taliban berkuasa.

Para produsen, penjual dan pembeli meyakini meroketnya harga opium di Afghanistan sekarang ini dipicu oleh pernyataan yang dilontarkan oleh juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid pada bulan lalu.

Ketika itu, Zabihullah menyatakan kepada dunia bahwa Taliban tidak ingin melihat “narkotika apa pun diproduksi” seraya menambahkan bahwa dukungan internasional diperlukan untuk memungkinkan petani beralih dari perdagangan.

Kini mulai terdengar desas-desus Taliban akan memberlakukan aturan larangan menanam opium.

Menurut Zekria kelangkaan tersebut justru yang akan membuat harga opium melonjak.

Zekria tidak percaya Taliban “dapat membasmi semua poppy (pertanian) di Afghanistan”.

Diketahui, saat berkuasa pada tahun 2000 Taliban melarang penanaman opium. Ditegaskan opium dilarang menurut Islam dan hampir membasmi tanaman itu.

Namun setelah penggulingan Taliban yang dipimpin AS pada tahun 2001, pertanian opium kembali berkembang biak.

Menariknya, setelah tergusur dari kekuasaan dan menjadi pemberontak Taliban mengandalkan produksi opium untuk membiayai pemberontakan mereka.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Berdasarkan data PBB produksi opium di Afghanistan pada tahun lalu mencapai 6.300 ton.

PBB memperkirakan bisnis opium menghasilkan pendapatan Rp28,5 triliun bagi Afghanistan. Karena itu para petani opium di Afghanistan berkeyakinan bisnis haram ini tak akan pernah bisa dibasmi.

Zekria menyatakan saat ini tidak ada solusi lain kecuali masyarakat internasional membantu warga Afghanistan.

“Tanpa opium, saya bahkan tidak bisa menutupi biaya hidup saya dan keluarga,” tegasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *