Sebuah studi internasional terbaru pada 23 September 2020 lalu, kita dihadapkan dengan kabar yang cukup memprihatinkan. Salah satu studi yang diterbitkan jurnal Nature itu melaporkan bahwa untuk pertama kalinya dalam lebih dari 30 juta tahun, Antartika berpotensi ‘’bebas’’ dari adanya es, yang artinya es di Antartika akan mencair.

‘’Sekarang simulasi kami menunjukkan bahwa setelah mencair, ia (Antartika) tidak akan tumbuh kembali ke keadaan awalnya. Hingga suhu kembali ke tingkat pra-industri. Skenario yang sangat tidak mungkin. Dengan kata lain, apakah kita benar-benar akan kehilangan Antartika sekarang? Selamanya?’’

Itulah yang diungkapkan salah satu penulis studi tersebut yang bernama Anders Levermann, seorang peneliti di Potsdam Institute for Climate Impact Research di Jerman.

Secara singkat, dalam simulasi komputer yang mereka gunakan, menggambarkan es di Antartika Barat yang meleleh saja, itu sudah cukup untuk menghancurkan kota-kota pesisir seperti New York, Tokyo, dan London. Dan ini merupakan salah satu fenomena tercepat kala es dunia meleleh.

Menurut para penulis studi tersebut, hanya satu alasan mengapa fenomena luar biasa itu bisa terus terjadi. Ini karena kegagalan umat manusia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca abad ini.

Perubahan Iklim Dunia di Masa Depan

info gambar

Studi lain membuktikan hal tersebut. Seperti Bain & Company dalam laporannya bertajuk Southeast Asia’s Green Economy Potential pada Desember 2020 lalu. Dalam laporan tersebut memperkirakan bahwa emisi karbon dioksida di Asia Tenggara akan meningkat hingga 60 persen pada tahun 2040.

Padahal, peningkatan kadar karbon dioksida adalah satu-satunya yang paling memengaruhi peningkatan suhu bumi yang berdampak pada pemanasan global dan perubahan iklim. Dalam kawasan Asia Tenggara, tentu saja Indonesia turut ‘’andil’’ dalam peningkatan emisi karbon dioksida tersebut.

Melihat urgensi tersebut pemerintah pun pada akhirnya memiliki target jangka panjang terhadap penurunan emisi di Indonesia. Melalui Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar, pemerintah akan menargetkan penurunan emisi Indonesia hingga tahun 2030 sebesar 29 persen dari Bussiness as Usual (BAU) dengan upaya sendiri.

Tak hanya itu, pemerintah pun menargetkan upaya penurunan emisi Indonesia dengan bantuan internasional dengan angka target yang lebih tinggi, yaitu 41 persen.

‘’Isu perubahan iklim berada setara dengan isu gender, jaring pengaman sosial, dan pengentasa kemiskinan. Proses untuk meningkatkan keterlibatan kota dan kabupaten, serta pemangku kepentingan non-party lainnya (untuk upaya penurunan emisi Indonesia) sedang berlangsung,’’ ungkap Siti dikutip Kontan.co.id (29/05/2020).

Bantu Serap Jejak Karbon dengan Aplikasi Gojek

Gojek GoGreeners Carbon Offset

info gambar

Untuk bisa berkontribusi dalam upaya mengurangi penurunan emisi, sebenarnya Kawan GNFI bisa melakukan melalui satu langkah sederhana dengan menyeimbangkan jejak karbon Kawan GNFI. Salah satu perusahaan ride-hailing Indonesia, yaitu Gojek, ternyata sudah memiliki fitur serap jejak karbon untuk konsumen.

Fitur yang sudah ada dalam satu platform, yaitu aplikasi Gojek itu bernama GoGreener Carbon Offset. Kemudahan menggunakan fitur ini menjadi salah satu wujud Gojek agar setiap individu dapat dengan turut berpartisipasi dalam aksi iklim sehingga mendorong mempercepat perubahan perilaku gaya hidup ‘’hijau’’ dalam skala besar. Khususnya bagi pengguna Gojek di Indonesia.

Sejak diluncurkannya fitur GoGreener Carbon Offset pada September 2020 lalu, Gojek yang juga bekerja sama dengan Jejak.in sudah melakukan penanaman hingga 1.500 pohon mangrove atau bakau di Jakarta, Demak, dan Bontang.

Bahkan target penanaman di tiga tempat tersebut juga diungkapkan lebih cepat dari target waktu yang ditentukan. Group Head of Sustainability Gojek, Tanah Sullivan, dalam konferensi pers virtual pada 4 Februari 2021 lalu mengatakan, ‘’Tercapainya target penamaman pohon terjadi dalam kurang dari tiga bulan sejak diluncurkan. Bahkan target pohon untuk wilayah DKI Jakarta telah tercapai hanya dalam satu bulan.’’

Melihat antusiasme tersebut, GoGreener Carbon Offset pun akhirnya meningkatkan layanan fitur di dalamnya, antara lain: (1) penampahan empat jenis jejak karbon untuk diserap dari barang elektronik televisi, AC, kulkas, dan laptop, (2) penambahan wilayah penanaman meliputi Semarang dan Surabaya, (3) penegasan komitmen untuk menggandakan jumlah pohon yang ditanam.

‘’Seluruh tahapan GoGreener Carbon Offset, dari perhitungan jejak karbon di awal, konversinya ke satuan pohon yang perlu ditanam, sampai di mana serta kapan pohon akan ditanam, sangat transparan. Fitur ini juga dilengkapi dengan monitoring dashboard yang menyajikan data pertumbuhan pohon, seperti diameter dan tinggi batang, sampai foto pohon untuk melihat warna dan tingkat kesehatan daun,’’ ungkap Tanah.

Konferensi Pers Virtual Gojek GoGreeners

info gambar

Melihat upaya tersebut, Peneliti Senior dari The World Agroforestry Center, Dr. Beria Leimona, mengatakan bahwa upaya yang dilakukan oleh Gojek merupakan wujud nyata sains yang diakselerasi dengan teknologi.

‘’Sehingga menjadi lebih kuat dalam mendorong perubahan. Dengan perhitungan berbasis sains, komunikasi sains yang mudah dipahami, dan transparansi penuh, merupakan kunci untuk menarik adaptor baru,’’ katanya yang juga memberikan pernyataan resminya bersama Tanah.

Buat Kawan GNFI yang mau turut berpartisipasi menyeimbangkan karbon demi melindungi bumi tercinta kita, fitur GoGreener Carbon Offset sudah bisa diakses melalui aplikasi Gojek tempat Kawan GNFI biasa memesan ojek ataupun mengantarkan makanan.

Ada pada pilihan fitur ‘’Lifestyle’’ atau ‘’Gaya Hidup’’, lalu pilih GoGreener. Lalu pilih ‘’Offset My Carbon’’ dan ikuti langkah selanjutnya untuk menghitung berapa emisi karbonmu. Nantinya untuk menyumbang pohon yang akan ditanam, Kawan GNFI bisa membayarnya lewat GoPay. Tenang saja, semua hasil dana dan berapa pohon yang sudah ditanam sudah dilaporkan dengan sangat transparan dalam fitur tersebut.



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here