Desa Karang Patihan atau Desa Balong dulunya terkenal dengan nama Kampung Idiot sebab banyak warganya yang merupakan penyandang tuna grahita. Tuna Grahita menurut American Association on Mental Deficiency adalah kelainan kecerdasan di bawah rata-rata, yaitu IQ

Menurut warga setempat, sekitar tahun 60/70-an, Desa Karang Patihan dilanda kekurangan gizi yang menjadikan tidak terpenuhinya asupan yodium. Dari pernyataan Kepala Puskesmas Kecamatan Balong, Hermansyah menyatakan dulu ada kebiasaan menanam baterai yang diyakini masyarakat mampu menambah kesuburan tanah.

Padahal hal tersebut kontra dengan kandungan yodium. Ketika diteliti kandungan yodium pada air tanah adalah nol sehingga saat itu masyarakat mengonsumsi air dan tanaman yang di dalamnya tidak mengandung yodium.

Keseharian tuna grahita sejak Eko Mulyadi kecil adalah meminta belas kasih orang lain, disebabkan tidak mampu bekerja dengan kondisi demikian. Tuna grahita dianggap rendah oleh masyarakat setempat dan tidak diberi kesempatan untuk berkembang.

Eko Mulyadi, pemuda asli Karang Patihan ini membawa perubahan besar bagi desa yang ditinggalinya sejak kecil. Berawal dari rasa iba ketika melihat tuna grahita di sekitar rumahnya, ia tergerak. Sejak sekolah menengah, Eko bersama karang taruna sudah membantu mencarikan donasi dari luar desa bagi penduduk tuna grahita.

Dari rasa iba itu, ia bersama karang taruna desa kemudian bermaksud untuk memberdayakan penyandang tuna grahita agar memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Program yang pertama digagas adalah dengan memberi setiap keluarga satu kambing, dan tidak boleh dijual sebelum bertambah.

Program selanjutnya berdasarkan pernyataan Eko Mulyadi dikutip dari Lentera Indonesia, yaitu beternak ikan lele. Tanah desa di sana tergolong tandus. Maka peternakan menjadi pilihannya. Lele juga dipilih karena siklus hidupnya cepat dari ikan lainnya.

Dalam tiga bulan, lele sudah bisa dipanen. Mereka menyediakan lahan bagi tiap keluarga, bibitnya, serta kemudian melakukan pelatihan secara intensif bagi penyandang tuna grahita. Mulai dari cara memberi makan sampai panen. Pelatihan ini dilakukan dengan bahasa isyarat dan kesabaran yang ekstra karena kondisi tuna grahita yang sulit memahami. Perlu berkali-kali hingga akhirnya mereka bisa paham.

Selain itu, Eko Mulyadi mengadakan Karang Patihan bangkit yang berkumpul tiap satu minggu sekali. Kegiatannya berupa pemberian motivasi dan juga pemberian keterampilan membuat keset, serta tasbih bagi penyandang tuna grahita.

Tujuannya agar bisa menjadi tambahan kebutuhan sehari-hari, serta merangsang pikiran tuna grahita dengan kegiatan yang cukup kompleks bagi mereka, seperti merajut, memasang-masangkan warna, dan menghitung tasbih. Kegiatan ini tentu diawasi oleh relawan.

Keset dan tasbih ini akan ditawarkan kepada pengunjung. Pernah suatu ketika ada pengunjung yang membeli tasbih, seharusnya tasbih berjumlah 33 tapi jumlahnya hanya 26. Namun, pengunjung tetap mau membawanya pulang sebagai buah tangan.

Tuna grahita juga manusia yang memiliki fitrah alamiah seperti manusia lainnya. Eko Mulyadi mengamati bahwa tuna grahita juga memiliki rasa suka dengan lawan jenis sebagaimana manusia selainnya. Dari sini, Eko Mulyadi kemudian berkonsultasi antara kedua keluarga kemudian menikahkan mereka.

Namun ada kekhawatiran, apakah keduanya yang sama–sama mengidap tuna grahita mampu membesarkan anak dengan baik? Pun juga ada ketakutan kalau keturunan mereka lahir sebagai tuna grahita. Maka, desa melakukan pendampingan secara penuh, baik asupan gizinya, melakukan pelatihan bagi mereka agar bisa merawat anak, dan lain-lain. Hasilnya, anak mereka lahir normal. Baik suami mampu menafkahi dan istri bisa merawat anak sama seperti orang tua normal lainnya.

Istri Eko Mulyadi juga turut serta dalam pembangunan dengan mengelola PAUD yang dikhususkan untuk anak tidak mampu, anak berkebutuhan khusus, dan anak yang lahir dari orang tua Tuna Grahita. Eko Mulyadi sangat mengapresiasi istrinya karena peduli terhadap anak–anak tersebut.

“Kalau bukan kita, siapa lagi?” tutur istri Eko Mulyadi.

Dalam melaksanakan pembangunan desanya, tentu tidak mudah dan banyak tantangan. Pada awalnya, ide pemberdayaan ini ditolak karena pesimis. Ada juga yang menganggap ini bukan untuk memberdayakan tapi memperdaya. Lalu juga ada opini, ‘Toh, kalau mereka mati nanti Tuna Grahita habis sendiri’. Namun, Eko Mulyadi berhasil menghadapi itu semua, walau perlu usaha dan kesabaran ekstra karena kesulitan dalam memberdayakan tuna grahita.

Dari sini, kita bisa menjadikan Eko sebagai teladan. Dari kepeduliannya yang tinggi akan kesulitan orang lain. Lalu, ia mengubah kualitas hidup mereka dengan memberdayakan, serta kerja keras tanpa kenal lelah. Itu semua mampu menjadikan hal yang menurut orang-orang tidak mungkin, tapi Eko dan agen perubahan yang membantu membuatnya menjadi mungkin.

Referensi: Zaki Mubarak, Tesis : Evaluasi Pemberdayaan Masyarakat Ditinjau Dari Proses Pengembangan Kapasitas Pada Kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan Di Desa Sastrodirjan Kabupaten Pekalongan, (Universitas Diponegoro), Abstrak

Youtube: Lentera Indonesia – Kisah Eko Mulyadi Pemerhati Tuna Grahita di Ponorogo (https://www.youtube.com/watch?v=YYowQkiTG5o&t=325s)

Pelatihan Ternak Lele Tuna Grahita | Foto : Youtube Net Documentary (https://www.youtube.com/watch?v=YYowQkiTG5o&t=325s)



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here