Jonas Andreas Latumeten adalah tokoh Indonesia dalam bidang medis yang aktif pada zaman pergerakan nasional. Untuk Kawan GNFI yang pernah singgah atau memang tinggal di Ibu Kota Jakarta, namanya bisa dijumpai di wilayah barat sebagai nama jalan di sekitaran atau dekat Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan dan Stasiun Grogol.

Sudah jamak kita ketahui sejumlah tokoh di Indonesia diabadikan sebagai nama jalan. Alasannya apa lagi kalau bukan sebuah tanda penghargaan atas jasanya bagi bangsa. Kebanyakan bergelar pahlawan nasional, tetapi untuk Latumeten belum terdaftar dalam daftar tersebut mungkin akan terbersit pertanyaan, apa yang membuatnya diabadikan sebagai nama jalan?

Jawabannya tentu karena pengabdian Latumeten bagi masyarakat berhubung ia menyandang profesi dokter. Pada masanya, ia ahli dalam menangani penyakit kejiwaan atau psikiatri.

Menjadi dokter pribumi yang saat itu mungkin satu-satunya andal di bidang tersebut sepertinya akan berat bagi Latumeten, apalagi mengingat ia hidup di zaman kolonialisme Belanda yang kentara perlakuan diskriminasi rasialnya. Pada saat menjalani praktik di Belanda misalnya, ia pernah melihat perlakuan dokter setempat yang tidak cakap menangani pasien jiwa. Saat itu sang pasien hendak diborgol. Di sinilah sikap kepahlawanan Latumeten terlihat. Ia tak rela melihat si pasien tidak dimanusiakan dan siap melawan sang dokter yang saat itu merasa kedudukan rasnya lebih tinggi dari dirinya.

Nyong Ambon yang Tak Sudi Diusili Penjajah

Jonas Andreas Latumeten lahir dari keluarga nelayan di Desa Rutong, Pulau Ambon, pada 15 Mei 1888. Ia keturunan keluarga besar Latumeten dari Rutong di mana kemudian ia menikah dengan gadis dari Desa Hutumuri bernama Leentje Jacomina Tehupeiory pada 1914. Dari pernikahannya, keduanya dikaruniai empat anak yakni; Willem Latumeten, John Ferry Latumeten, Tineke Latumeten, dan Helena Latumeten.

Sewaktu muda, Jonas Latumeten mengikuti ayahnya yang berprofesi sebagai nelayan. Ia terampil menangkap ikan dan tidak kenal lelah memasarkan hasil tangkapannya ke kota Ambon dengan berjalan kaki sekitar 23 kilometer.

Namun, seringkali nyong Ambon satu ini diusili pegawai dan polisi kolonial Belanda. Ikannya diambil secara paksa, dan itu dialami pula oleh penduduk di desanya. Hanya saja berbeda dengan penduduk desa yang pasrah, Jonas Latumeten tidak sudi mengalah. “Opa melawan dengan merebut kembali ikannya dari tangan mereka,” kata Louise Latumeten, cucu kesepuluh Jonas, dikutip GNFI dari artikel Majalah Tempo berjudul “Anak Nelayan Melawan Kompeni”. Perilaku aparat setempat inilah yang membuat Jonas Latumeten muda benci terhadap penjajahan Belanda.

Dibilang “Monyet Hitam”, Bogem Mentah Melayang ke Wajah Dokter Belanda

Semangat dan sifatnya yang ulet mengantarkan Jonas Latumeten belajar di sekolah kedokteran bagi murid pribumi yakni STOVIA yang berada di Batavia (Jakarta). Dari STOVIA, ia pergi ke Utrecht, Belanda, untuk mendalami ilmu kejiwaan.

Mengutip dari Nurturing Indonesia: Medicine dan Decolonisation in the Dutch East Indies karya Hans Pols, Latumeten meraih gelar doktor pada 1925. Saat itu ia menulis disertasi berjudul “Over de Kernen van den Nervus Oculomotorius” atau bila diterjemahkan secara kasar berarti “Mengenai Inti Saraf Oculomotorius”.

Sebelum meraih gelar doktoralnya, Jonas Latumeten juga berpraktik di sebuah klinik di Kota Utrecht. Sebuah insiden terjadi antara ia dan petugas medis setempat yang tentunya adalah orang Belanda asli.

Diceritakan oleh Louise Latumeten dalam artikel “Raja Hitam Ahli Jiwa” di Majalah Tempo, kepala klinik kesal dengan Jonas Latumeten karena meninggalkan pasien. Namun, Jonas punya alasannya. Ia tidak mau melihat pasien gangguan kejiwaan dirawat dengan cara dipasung.

Tidak suka dengan keputusan Jonas Latumeten, sang kepala klinik mencak-mencak dan mengumpat: “zwarte aap” yang artinya monyet hitam. Tidak terima dengan ungkapan kasar berbentuk rasialis itu, bogem mentah pun melayang dari Latumeten ke wajah sang dokter Belanda.

Balas Analisa Diskriminatif Dokter Belanda dengan Tulisan

Tak cuma dengan fisik, tetapi Jonas Latumeten juga membalas perlakuan diskriminasi dokter Belanda dengan kepintarannya. Saat psikiatris Belanda yang bertugas di Indonesia, F. H. van Loon, mengeluarkan tulisan tentang kondisi amok dan sifat orang pribumi, Asosiasi Dokter Hindia yang diketuai Latumeten mengeluarkan tulisan tandingan.

Hans Pols dalam Nurturing Indonesia menyebut tulisan empat halaman yang diterbitkan organisasi itu tak lain karya Latumeten. Isinya menyerang pandangan Van Loon dan mendekonstruksi argumennya.

Van Loon menulis tentang amok, kondisi marah tiba-tiba di depan umum dan terkadang bisa sampai membunuh. Ia menyebut, amok hanya terjadi di Hindia karena sifat manusianya masih primitif dan tidak bisa menahan emosi sehingga pertarungan fisik mudah terjadi.

Latumeten menolak penyataan ini. Ia menyebut Van Loon bersikap tidak objektif dan penelitiannya terpengaruh prasangka rasial. Ia mempertanyakan sifat emosional dan tukang kelahi yang disebut Van Loon. Pasalnya, di Belanda sendiri Latumeten sering menemukan perkelahian di depan bar atau di jalanan, baik tangan kosong maupun dengan pisau.

“Kalau kami yang kelahi kalian sebut amok. Di sini, (di Belanda) disebut ekspresi budaya,” sindir Latumeten dalam tulisannya.

Mengabdi di Ujung Barat Indonesia

Di Belanda, Latumeten aktif berorganisasi bersama para pribumi lainnya. Ia bergabung dengan Asosiasi Dokter Hindia cabang Belanda sampai ditunjuk menjadi ketua pada 1924.

Jonas Latumeten juga tercatat sebagai anggota Jong Ambon. Selain itu, ia turut terdaftar sebagai anggota Perhimpunan Indonesia (PI), pergerakan pemuda Tanah Air di Belanda yang mencita-citakan kemerdekaan bagi Indonesia. Keterlibatannya pada pergerakan kemerdekaan membuatnya dibuang ke Pulau Weh, Sabang.

Jauh dari tempat kelahirannya, jauh pula dari kota tempat ia menimba ilmu, nyatanya tidak menyurutkan semangat Jonas Latumeten. Pada 1927, ia menjadi pengawas rumah sakit jiwa di Sabang.

Tak hanya urusan penyakit, tetapi juga pendidikan. Dikutip dari Sejarah Daerah Provinsi Daerah Istimewa Aceh yang dihimpun Dirjen Kebudayaan, pada akhir Juli 1932, Latumeten yang didukung Uleebalang Sabang, T. Abbas, mendirikan Sekolah Taman Siswa di kota ujung barat dari Indonesia tersebut.

Bertugas di Salah Satu RSJ Tertua di Indonesia

Pada 1936, Jonas Latumeten kembali bertugas di Rumah Sakit Jiwa Lawang, Jawa Timur. Di RSJ yang diresmikan pada 1902 ini, ia merawat pasien selayaknya manusia. Pasien diajak berkegiatan salah satunya bercocok tanam.

Di rumah sakit yang kini bernama RSJ Dr. Radjiman Wediodinigrat itu, Jonas Latumeten mengabdi hingga zaman Jepang. Derita pun ia rasakan ketika serdadu Jepang gemar memalak hasil bumi yang dipanen Jonas dan pasien. Jonas melawan. Namun seperti yang diutarakan cucunya Louise, sang kakek sering babak-belur karena tidak mau tunduk dengan sikap pemerintahan militer Jepang.

Menjelang bulan proklamasi kemerdekaan pada 1945, Latumeten ditangkap oleh Kenpeitai. Perlakuan buruk di penjara Bukit Duri, Jakarta Selatan, dirasakannnya di mana ia hampir mati kelaparan.

Setelah Jepang kalah di Perang Dunia II dan Indonesia meraih kemerdekaan, keselamatan masih jauh dari diri Jonas Latumeten. Ketika itu orang timur terutama Maluku Kristen sangat dicurigai oleh pemuda republik karena dianggap pro-Belanda.

Meski sejak dulu Latumeten getol memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, karena jabatan tingginya di RSJ Lawang, orang Ambon, dan Kristen, ia sempat jadi tahanan anak-anak muda pro-republik meski tidak lama.

Pada awal 1946, Latumeten diangkat menjadi profesor psikiatri di Sekolah Tinggi Kedokteran (kelak menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia). Di usia senjanya, ia masih dipercaya sebagai inspektur rumah sakit jiwa di Kementerian Kesehatan Indonesia. Oleh Presiden Sukarno, ia juga dipilih sebagai anggota Dewan Petimbangan Agung bersama rekannya seprofesinya, Radjiman Wediodiningrat.

Latumeten tak lama memegang posisi ini karena ia keburu dipanggil Sang Pencipta. Menurut Pramoedya Ananta Toer dalam Kronik Revolusi Indonesia, perlakuan buruk di penjara Jepang rupanya merusak kesehatannya. Saat itu ia disiksa dan menderita luka dalam yang tak pernah diobati saat dibui. Latumeten akhirnya meninggal dunia di Rumah Sakit Perguruan Tinggi Djakarta pada 30 Mei 1948 dalam usia 60 tahun.

Referensi: Historia.id | Majalah Tempo | Pramoedya Ananta Toer, “Kronik Revolusi Indonesia” | Hans Pols, “Nurturing Indonesia: Medicine dan Decolonisation in the Dutch East Indies



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here