Apa yang kita bayangkan ketika mendengar nama desa wisata? Tentunya kesegaran, ayam berkokok di pagi hari, keharmonisan alam dengan manusia, kegiatan bercocok tanam, dan lain sebagainya. Intinya, pasti hal yang indah-indah jauh dari hiruk pikuk keramaian perkotaan.

Secara definisi, desa wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi, dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku.

Desa wisata juga merupakan elemen pariwisata yang terdiri dari keseluruhan pengalaman pedesaan, atraksi budaya, tradisi, unsur-unsur unik, yang secara keseluruhan dapat menarik minat wisatawan.

Sementara menurut Kementerian Pariwisata, desa wisata adalah suatu wilayah pedesaan yang menawarkan keseluruhan suasana yang mencerminkan keaslian pedesaan, baik dari kehidupan, sosial ekonomi, sosial budaya, adat-istiadat keseharian, arsitektur bangunan, maupun struktur tata ruang desa yang khas.

Atau juga bisa dibilang segala kegiatan perekonomian yang unik dan menarik, serta memiliki potensi untuk dikembangkan berbagai komponen kepariwisataan.

Tapi tahukah kawan, bahwa sebetulnya desa wisata selain berdampak secara ekonomi, juga berperan sebagai konservasi budaya dan alam. Yakni menjaga komposisi wilayah sebagai penyeimbang dan keselarasan alam sekitarnya.

Hal tersebut seperti diceritakan Trisno, Inisiator dan Koordinator Desa Menari yang terletak di Dusun Tanon, Desa Ngrawan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, dalam acara ‘Travel Experience: The Story of Indonesia‘, yang diselenggarakan Kemenparekraf dan GNFI, Rabu (14/10/2020).

Dalam ceritanya, Trisno mencoba menyelaraskan budaya desa, keindahan alam, serta potensi ekonomi yang bisa dicapai, namun tetap menjaga orisinalitas lingkungan dan alam sehingga keelokannya tetap terjaga.

”Desa wisata tak hanya mengenalkan dan menjaga budaya desa, tapi juga membangun interaksi dengan alam sebagai salah satu langkah untuk konservasi alam. Saya rasa ini juga sangat penting,” ungkapnya.

Lalu, bagaimana desa wisata bisa selaras dengan upaya konservasi budaya dan alam seperti yang diucap Trisno di atas? Berikut paparannya.

Cermat melihat potensi desa

Jika sedikit menarik garis ke belakang, pada tahun 2000 Dusun Tanon dikatakan masih tertinggal, khususnya soal ekonomi warganya. Jalan belum diaspal, penghasilan penduduk rendah, dan anak-anak yang melanjutkan sekolah sangat minim.

Berada di lereng Gunung Telomoyo yang memesona, sejak dulu kebanyakan mata pencarian penduduk Dusun Tanon adalah peternak dan petani. Jikapun mereka merantau ke luar daerah, kebanyakan hanya menjadi pekerja kasar.

Soal kemajuan desa, cerita bermula pada 2006 ketika Trisno yang merupakan lulusan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta, kembali ke dusun berpenduduk 151 jiwa dan 37 kepala keluarga itu usai menyandang gelar sarjana.

Boleh dibilang, Trisno adalah satu-satunya pemuda yang meraih sarjana kala itu. Ia kemudian berpikir, bagaimana membangun desanya yang memiliki segala keterbatasan itu. Atas tekad itulah, ia menolak pekerjaan di ibu kota.

Upayanya kemudian membuahkan hasil, Kang Tris–demikian ia akrab disapa–akhirnya mampu menginspirasi kawasan yang dulunya jauh dari kemapanan dan kemandirian wirausaha, berubah menjadi sebuah kampung wisata pada 2009.

Saat ini, Desa Tanon menjelma menjadi salah satu desa wisata budaya dan ekonomi kreatif di Semarang. Sejak 2012, desa itu juga menjadi salah satu destinasi wisata yang banyak dikunjungi baik wisatawan lokal maupun mancanegara.

Dusun tersebut juga terkenal dengan julukan ”Desa Menari” yang mendapatkan penghargaan dari Astra Internasional melalui program Kampung Berseri Astra.

Atas keberhasilan mendorong perekonomian desa tersebut, Trisno pun menyabet penghargaan Pemuda Pelopor Bidang Peternakan Jawa Tengah pada 2009 dari pemerintah Jawa Tengah, dan apresiasi dari Satu Indonesia Award 2015 Bidang Lingkungan dari Astra International.

Mendongkrak ekonomi desa melalui wisata esensial

Sebagai sebuah desa wisata yang banyak dikunjungi oleh pelancong dari berbagai wilayah, Kang Tris juga membekali penduduk desa dengan pendidikan, agar bisa berinteraksi dengan para pelancong yang datang. Karena maklum saja, tak banyak orang tua yang berminat menyekolahkan anaknya hingga tingkatan lebih tinggi dari sekolah dasar (SD).

Untuk menunjang aktivitas-aktivitas itu, seluruh warga desa dari tua hingga muda pada akhirnya diajari Trisno pelajaran bahasa Inggris. Diskusi memang menjadi salah satu cara yang ditempuh Trisno. Dia tak segan ngobrol dengan para pemuda desa dan orang tua untuk membuka pemikiran mereka tentang pentingnya pendidikan.

“Mereka sangat antusias, karena tujuannya kami ingin mewujudkan Kampung Jawa dan ingin mengajari para wisatawan mancanegara berbahasa Jawa, sehingga harus bisa ngomong bahasa Inggris dulu sebagai pengantar,” ceritanya.

Sajian tarian desa

Jika kemudian soal interaksi sudah lambat laun membaik, kemudian Trisno dan seluruh warga mulai membuat konsep konten wisata yang ditampilkan ketika wisatawan datang. Salah satu atraksi di dusun itu yang cukup tenar hingga saat ini adalah pementasan tari-tarian.

Secara umum, warga desa memang telah melestarikan kesenian tari rakyat secara turun-temurun. Anak-anak pun sudah diajari menari sejak usia belia. Salah satu tarian yang dikuasai oleh warga desa adalah Tari Warok, lain itu ada juga Tari Topeng Ayu, Kuda Debog, Geculan Bocah, Kuda Lumping, dan Tari Eko Prawiro.

Lalu, ada juga satu tarian yang kerap memikat para pelancong ketika berkunjung ke sana, yakni tarian Ndolanan Bocah (bocah bermain) yang dilakukan oleh anak-anak.

Saat atraksi menjamu para turis, tak hanya anak-anak muda saja yang menyuguhkan tarian, namun juga dibawakan oleh para orang tua. Para turis yang sedang menonton disajikan makanan khas pedesaan, seperti ubi/singkong/pisang rebus, getuk, kopi, dan camilan lain yang tak kalah enak.

Konsep wisata alam

Lain sajian tarian, konsep wisata desa menari juga mengajak para pengunjung untuk menyusuri alam desa melalui program wisata outbound.

Pada dasarnya, konsep itu muncul karena Trisno pernah menjadi pemandu wisata di Solo. Alasan lain yang memantapkan niatnya untuk menjadikan desanya sebagai destinasi wisata outbound adalah soal lahan hortikultura milik warga yang cukup terbatas, yakni kurang dari 2.500 meter persegi.

Pendek kata, pasokan hasil panen dari lahan seluas itu tak cukup untuk meningkatkan perekonomian warga. Nah, karena itu dibuatlah konsep bagaimana interaksi pengunjung dengan alam desa bisa dikembangkan dengan memberikan pengalaman bercocok tanam di kebun dan lahan.

”Upaya ini merupakan cara kami untuk mengingatkan pengunjung pada esensi dasar soal interaksi antara manusia dengan alam, juga untuk mengingatkan bagi mereka (para pengunjung) yang semasa kecil pernah bercocok tanam di desa. Pengalaman atas memori inilah yang selama ini sulit ditemui di tempat-tempat wisata lain,” beber Trisno.

Ada beberapa tujuan pembelajaran soal wisata outbound ini yang bisa langsung dirasakan oleh para pengunjung Desa Tanon. Hal-hal tersebut adalah:

  • Menumbuhkan empati terhadap orang lain,
  • Menghargai bahwa setiap hal ada proses,
  • Memahami bahwa para pelaku profesi dasar adalah penjaga keberlangsungan sebuah mata rantai kehidupan,
  • Belajar mensyukuri kehidupan, dan
  • Berguru pada alam.

Trisno juga mengajak pengunjung untuk memerah susu sapi segar, dan ternyata banyak pengunjung yang antusias untuk mencobanya.

Hasilnya, Desa Tanon mampu memasok susu sapi segar, selain untuk dikonsumsi juga sebagai bahan baku sabun susu dengan merek Kamila, yang saat ini cukup tenar di sejumlah kota di Jawa Tengah. Lain itu, desa ini juga penghasil camilan kripik pegagan dan kerajinan tangan yang berbuah pada peningkatan perekonomian warga.

“Kami bekerja sama, untuk meningkatkan kualitas desa. Salah satunya dengan menyetorkan hasil susu sapi ke koperasi dan mempekerjakan para kaum wanita untuk mengolah sabun susu,” jelas Trisno.

Dari harga susu yang dihargai tengkulak hanya Rp1.500 per liternya, kini warga desa mampu mendapat keuntungan lebih dengan berkembangnya pengetahuan soal pasokan susu ke koperasi. Mereka saat ini mendapatkan Rp3.000 dari tiap liter susu murni yang mereka suplai.

Program yang dijalankan dengan berbasis sektor wisata juga mampu mendorong warga di sektor usaha mandiri kecil menengah (UMKM).

Pembentukan karakter yang orisinal

Bagi pengunjung yang menginap di Desa Tanon, mereka juga bakal merasakan suasana desa yang alami dan asri. Seperti saat pagi hari mendengar kokok ayam, menikmati pemandangan sejuk lereng Gunung Telomoyo sambil menyesap kopi, dan melihat pada petani berada di ladang sedang bercocok tanam.

Sebuah pengalaman yang saat ini sulit ditemui, dan tentunya sangat berharga bagi mereka yang ingin merasakan kembali suasana pedesaan yang lestari.

Para pengunjung pun diajak untuk beraktivitas layaknya warga, seperti melakukan semua hal secara mandiri. Seperti sehabis mekan mencuci piring sendiri, serta melakukan aktivitas-aktivitas mandiri lainnya.

Hal itu seperti diungkap Trisno, adalah upaya membentuk kepribadian yang orisinal dengan cara mandiri. Karenanya, beberapa program soal kemandirian dan pembentukan karakter tadi, ditujukan bagi anak-anak usia dini.

“Kami juga membuat program-program untuk pendidikan anak usia dini (PAUD), mengajarkan bagaimana memebentuk karakter mereka hingga menjadi individu-individu yang mandiri dan mampu berempati dengan orang lain. Lain itu juga mengajarkan bagaimana cara cepat beradaptasi.”

Laboratorium sosial dan konservasi

Desa Menari juga merupakan laboratorium sosial untuk menyemai sinergi antara modernitas dan tradisi. Sekira ada beberapa hal yang disampaikan Trisno terkait hal itu.

Yang pertama adalah soal konservasi profesi asli masyarakat sebagai petani dan peternak. Pengunjung dapat melihat bagaimana kehidupan orisinal masyarakat desa yang terus terjaga kelestariannya.

Kemudian konservasi dan pelestarian dolanan tradisional dan kesenian lokal. Pengunjung diajarkan bagaimana proses kelestarian budaya itu tetap terjaga, hingga mampu memberikan atraksi orisinal yang bakal berdampak pada konten pariwisata.

Lalu melakukan gerakan penyadaran untuk membangun kekuatan lokal dalam mewujudkan kemandirian. Hal ini memperlihatkan bagaimana kekuatan budaya lokal mampu menghipnotis para pengunjung yang sebagain besar berasal dari kota besar yang identik dengan pola hidup modern.

Hal yang tak kalah penting adalah memanfaatkan teknologi informasi sebagai bagian dari perawatan kekuatan lokal. Warga bakal diajarkan bagaimana bangga memiliki tradisi lokal yang diminati oleh kalangan turis mancanegara, dan hal itu tentu harus disuarakan secara luas.

Sementara penerapan teknologi sebagai media promosi kegiatan kebudayaan dan konservasi nilai lokal dalam upaya menumbuhkan kekuatan finansial, juga menjadi salah satu poin yang tak kalah penting sebagai media apresiasi aktivitas kebudayaan.

Karenanya, untuk terus menjaga nilai-nilai itu, Desa Tanon tak dibuka setiap hari untuk dikunjungi. Trisno menyebut hal itu merupakan cara untuk menjaga ritme aktivitas warga.

”Kita juga menjaga agar tak terlalu banyak wisatawan yang keluar masuk Desa Tanon. Selain agar tak terlalu padat, juga untuk menjaga aktivitas warga,” tandasnya.

Namun dari banyak hal yang dibeberkan Trisno tadi, masih ada sedikit kendala soal ketersediaan jaringan seluler, khususnya di Desa Tanon. Ia berharap, pemerintah mulai merespons terkait penyediaan infrastruktur jaringan tersebut.

Respons pelaku industri pariwisata dan Kemenparekraf

Apa yang diceritakan Trisno, sejalan dengan apa yang diutarakan Julius Bramanto, CEO Traval.co, sebuah agen perjalanan wisata. Sepakat dengan Trisno, Julius mengatakan bahwa kita sebagai anak bangsa perlu menjaga tradisi dan nilai budaya lokal sebagai salah satu kekuatan pariwisata di Indonesia.

“Jika diibaratkan Indonesia itu sebuah karangan bunga, maka adat dan budaya lokal itu sebagai bunga-bunganya. Kita harus pandai merangkai agar terlihat selaras dan cantik,” ujarya.

Sebagai pelaku bisnis dari industri pariwisata di Indonesia, Traval.co saat ini tengah mencoba menggambarkan soal desatinasi wisata-wisata daerah dan pergerakan kearifan lokal yang dikemas melalui program Virtual Heritage, yakni sebuah program yang mengajak masyarakat Indonesia melihat destinasi dan budaya wisata Indonesia secara virtual dari rumah.

Hal itu diharapkan akan memupuk kebanggaan anak bangsa terhadap budaya-budaya lokal serta destinasi wisata Indonesia yang tak kalah indah dari negara lain. Seperti dijanjikan Julius, Virtual Heritage ini diselenggarakan selama sebulan penuh sepanjang Oktober.

Sementara dari pihak Kemenparekraf merespons positif apa yang dilakukan oleh para pelaku industri pariwisata dan inisiator tempat wisata. Direktur Komunikasi Pemasaran Kemenparekraf, Diah Paham, mengungkap bahwa salah satu keunggulan pariwisata lokal adalah hadirnya desa-desa wisata.

Melalui desa-desa wisata potensial itu, akan banyak digali atau dipertontonkan budaya lokal serta ragam kultur yang selama ini bisa jadi masih tersimpan dan belum terlalu terekspos. Ini tentunya menjadi nilai tambah yang baik bagi industri pariwisata di Indonesia.

Dalam catatan BPS pada 2018, desa wisata dan potensi desa wisata di Indonesia tercatat mencapai 1.814 desa yang tersebar di seluruh kepulauan di Indonesia. Yang terbanyak tercatat ada pada wilayah Jawa dan Bali yang mencapai 857 desa wisata dan desa wisata potensial.

Desa wisata di Indonesia

”Sektor pariwisata adalah yang paling awal terdampak saat pandemi, dan mungkin jadi industri yang paling terakhir tumbuh setelah pandemi usai. Karenanya strategi yang Kemenparekraf lakukan adalah membangun kepercayaan dari para pelaku industri pariwisata dan building trust untuk masyarakat, dengan menggunakan komunikasi yang menarik dan selalu menyarakan hal-hal positif,” beber Diah.

Diah juga bilang, saat ini pihak Kemenparekraf tengah mengajak masyarakat Indonesia untuk terus menikmati destinasi-destinasi wisata di Indonesia. Karena memang, sebagian objek wisata di Indonesia telah dibuka, dan bisa didatangi melalui protokol kesehatan tentunya.

Kemeparekraf juga menyuarakan soal kampanye Bangga Buatan Indonesia,yang mengajak masyarakat untuk membeli hasil-hasil kearifan budaya lokal, seperti kain tenun, dst. Hal ini tentu akan membantu para pelaku UKM yang menjual cinderamata khas daerah tersebut.

Sementara Akhyari Hananto, Founder GNFI, mengatakan bahwa pengalaman berwisata akan menjadi cerita yang tak akan tergerus oleh apapun, bahkan tak akan hilang oleh waktu. Itu tentu yang ingin dimiliki oleh setiap orang.

“Berwisata tak hanya memanjakan mata, tapi juga memanjakan rasa, dan juga bagaimana destinasi wisata dapat merekat, berakar, dan terpatri dalam memori para traveler atau pelancong,” tandasnya.

Nah, dari paparan di atas, tak ada alasan bagi kita untuk tak berwisata, baik secara virtual maupun secara langsung.

Yuk berwisata sambil melakukan konservasi budaya dan alam. Salam lestari!

Baca juga:



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here