Mungkin beberapa di antara kita mulai jarang sekali untuk memainkan permainan tradisional warisan budaya nenek moyang. Mungkin juga beberapa di antara kita rutin sekali untuk menggelar edukasi dalam mengenalkan permainan tradisional sebagai warisan nusantara. Apapun kondisinya, semoga kisah perjalanan ini menjadi sebuah inspirasi untuk Kawan GNFI.

Dimulai sejak tahun 2010, waktu itu belum terpikirkan bahwa ini penting. Sama sekali merasa jika permainan tradisional itu adalah hal yang biasa. Tidak ada sesuatu yang istimewa. Waktu itu kegiatannya adalah pengenalan edukasi kepada anak-anak di sebuah kampung binaan. Setelah itu, tidak ada edukasi lagi karena merasa hal itu biasa saja.

Tahun 2014 terbentuk komunitas yang bergerak di bidang pendidikan dengan memiliki kampung binaan, dan memasukkan salah satu konten budaya berupa permainan tradisional untuk dijadikan sebagai salah satu materi. Masih saja, belum merasa begitu penting. Baru tersadar dan terbesit sepertinya perlu perhatian khusus.

Ada banyak pelajaran yang bisa diambil ketika anak-anak melakukan permainan. Baik itu permainan tradisional maupun modern. Salah satunya etika. Dalam sebuah konteks permainan, etika cukup lekat kaitannya.

Untuk itu, terbentuklah Kampoeng Dolanan, sebuah komunitas yang berfokus pada permainan tradisional. Berdiri pada 13 Desember 2016, Kampoeng Dolanan bersinergi dengan salah satu karang taruna di daerah Simokerto. Tak sampai di situ, Kampoeng Dolanan juga memiliki relawan yang tersebar di berbagai kampus di Surabaya.

Mengawali program dengan menggelar lapak permainan tradisional di Car Free Day (CFD) Jalan Tunjungan Surabaya, Kampoeng Dolanan mendapatkan pengalaman yang menarik. Di tempat ini sempat terusir sebanyak 5 kali oleh dinas terkait. Kemudian, kesempatan untuk menggunakan area CFD Tunjungan menjadi lebih mudah dan gampang. Kampoeng Dolanan boleh menggunakan CFD Tunjungan selamanya untuk keperluan edukasi permainan tradisional setelah dilakukan diskusi oleh pihak terkait.

Tim Kampoeng Dolanan | Foto: Dok. Pribadi

info gambar

Program utama kampoeng dolanan adalah roadshow di berbagai daerah untuk mengenalkan permainan tradisional. Kampoeng Dolanan mempunyai prinsip bahwa permainan tetaplah permainan yang disukai oleh anak-anak. Apapunkondisinya, baik digitalisasi permainan maupun permainan tradisional. Banyak juga yang mengeluh bahwa anak-anak sekarang tidak senang dengan permainan tradisional.

Anak-anak tidak bermain permainan tradisional karena belum ada yang memberitahu mereka. Bagaimana mereka bisa tahu permainan tradisional, sementara kita tidak pernah mengedukasi mereka tentang permainan tradisional? Sejak kecil, mereka diberikan gawai.

Lantas, kita tak sadar bahwa kitalah yang memulai untuk mengenalkan gawai ke mereka sejak dini. Ini sering menjadi bahan diskusi dan penyadaran kepada masyarakat.

Masalah utamanya, permainan tradisional sebetulnya bukan karena teknologi yang berkembang, tetapi minimnya penggerak untuk mengenalkan permainan tradisional kepada anak-anak. Akhirnya, Kampoeng Dolanan membuat program roadshow dengan 4 sasaran, yaitu sambang kampung, sambang sekolah, sambang dalan (tempat umum), sambang event, dan sambang komunitas.

Banyaknya sasaran itu mencakup semua lapisan mulai dari anak-anak hingga lansia. Setiap roadshow, selalu diusahakan ada unsur edukasi terhadap yang non anak-anak juga supaya hadir lagi para penggerak di setiap tempat yangdikunjungi.

Pada tahun 2017, Kampoeng Dolanan melakukan roadshow ke Surabaya, Banyuwangi, Bali, dan Surabaya dengan menggunakan sepeda motor hanya dilakukan oleh dua orang, yaitu Mustofa Sam dan Lutfi Indrajaya. Total waktu mencapai 7 hari.

Kemudian pada tahun 2018, bersama dengan Yayasan 1000 Senyum, tim Kampoeng Dolanan meluncur ke Lombok untuk menghibur anak-anak yang saat itu menjadi korban bencana gempa bumi. Di tahun berikutnya, tahun 2019, tim melanjutkan roadshow ke Surabaya, Jombang, Jepara, hingga Bojonegoro.

Sementara itu pada tahun 2020, sebuah perjalanan yang pasti takkan bisa dilupakan. Di era pandemi, tak bisa bebas bergerak untuk mengedukasi masyarakat secara umum tentang permainan tradisional. Akhirnya, tim berkarya dengan membuat 10 jenis kartu permainan agar tetap mengedukasi permainan tradisional.

Saat kondisi Indonesia memasuki new normal, tim kembali melakukan roadshow lintas provinsi dimana perjalanan melewati provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah dan DI Yogyakarta dengan menggunakan sepeda motor. Perjalanan dimulai dari Surabaya – Nganjuk – Trenggalek – Tulungagung – Nganjuk – Ngawi – Solo – Jogja – Sleman – Klaten – Ngawi – Jombang – Surabaya. Perjalanan ini berlangsung selama 7 hari.

Banyak hal positif ketika melakukan roadshow. Menemukan saudara baru dan menjadi bagian dari keluarganya. Roadshow keliling Jawa ini mengajarkan bahwa sebetulnya Indonesia bersaudara. Warga Indonesia mempunyai kepedulian terhadap sesama dan di sinilah, bisa dekat masyarakat tanpa memandang suku, agama dan ras karena kita semua satu, Indonesia.

Besar harapan, akan ada yang meneruskan perjuangan pelestarian permainan tradisional di daerahnya masing-masing. Ada hal yang sudah terbayang ketika permainan tradisional tetap dijalankan bahwa kearifan lokal akan tetap terjaga, dan Indonesia tetap ada sampai kapanpun dengan nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh nenek moyang.*



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here