Memang kalau bahas soal kecantikan, erat kaitannya dengan isu feminisme. Di tengah banyaknya pro dan kontra terkait isu feminisme, sebenarnya para wanita di dunia hanya ingin mengkampanyekan bahwa, ‘’Semua wanita itu cantik tanpa terkecuali!’’

Kampanye ini juga yang pada akhirnya membuat representasi wanita Muslim sudah mulai menjadi bagian dari identitas kecantikan wanita. Hingga lahirlah istilah ‘’Halal Beauty’’. Beberapa penelitian bahkan menyebutkan bahwa tren Halal Beauty ini masih akan terus berkembang.

Selain beriringan berkembangnya komunitas muslim, namun Halal Beauty juga sangat berpotensi menjangkau pasar yang sangat meluas tak terbatas pada populasi muslim saja. Ini karena Halal Beauty sangat memperhatikan segala sesuatu yang mencakup komposisinya.

Mulai dari bahan, pembuatan, pengemasan, sampai penyimpanan produknya harus terbebas dari bahan-bahan yang dilarang secara Islam. Misalnya minuman beralkohol dan unsur turunannya, darah, bangkai, hewan-hewan haram, kotoran, dan kandungan berbahaya lainnya.

‘’Anda tidak harus menjadi seorang muslim untuk menikmati ‘keindahan’ Halal Beauty’’, tulis redaksi Vogue Singapore bernama Lina Esa dalam tulisannya berjudul Halal Beauty Brands That Are Redefining Southeast Asia pada 23 September 2020 lalu.

Dalam tulisannya, Esa mengutip beberapa laporan yang menunjukkan bahwa ke-booming-an Halal Beauty ternyata memberi andil pada perputaran ekonomi global.

Seperti laporan survei dan penelitian DinarStandard’s State of The Global Islamic Economy yang menyebutkan bahwa, ada sekitar 240 juta muslim di Asia Tenggara. Dan populasi muslim secara global masih ada kemungkinan besar untuk meningkat hingga 80 persen pada tahun 2050.

Melihat potensi tersebut, industri halal—termasuk industri kosmetik maupun produk perawatan halal—sudah mencapai 61 miliar dollar AS pada tahun 2017. Angka tersebut masih berpotensi besar untuk meningkat hingga mencapai 122 miliar dollar AS pada tahun 2023 mendatang.

Dari nilai angka ekonomi industri halal tersebut, laporan Grand View Research merinci bahwa untuk pasar kosmetik dan produk kecantikan halal secara global akan menyumbang sedikitnya 70,85 miliar dollar AS pada tahun 2025.

Sebagai salah satu kawasan populasi muslim terbesar di dunia, Vogue Singapore pun akhirnya menjelajahi kawasan Asia Tenggara untuk menemukan merek kecantikan yang mengusung dan menjadi pelopor Halal Beauty di kawasan ini.

Dari lima merek yang disebutkan, ada tiga merek produk kecantikan berasal dari Indonesia. Tidak hanya mendominasi sebagai salah satu pelopor industri Halal Beauty, namun Vogue Singapore pun melihat bahwa tiga merek ini memiliki visi dan berani untuk melawan standarisasi kecantikan di Asia Tenggara.

Tiga merek Indonesia ini bersanding bersama merek Ayn Skin dari Singapore dan So.Lek dari Malaysia. Berikut tiga merek Indonesia yang disebut sebagai pelopor pengubah kecantikan dan Halal Beauty di Asia Tenggara:

  1. Base

Merek Base ini adalah merek produk perawatan kulit yang memiliki keunikan tersendiri. Pasalnya, produk yang dikeluarkan oleh Base sangat spesifik pada kebutuhan perawatan kulit setiap orang. Yang artinya produk perawatan kulit yang dikeluarkan Base akan mengikuti kebutuhan setiap wanita Indonesia.

Merek produk kecantikan yang didirikan oleh Yaumi Fauziah Sugiharta dan Ratih Permata Sari pada Maret 2019 ini memanfaatkan teknologi dan algoritma konsumen untuk bisa memenuhi kebutuhan kebutuhan wanita Indonesia yang berasal dari 633 suku bangsa ini.

Di awal, mereka mendapatkan data melalu kuesioner yang dikombinasikan dengan algoritma untuk menyesuaikan formulasi skincare yang dibutuhkan oleh setiap jenis kulit wanita Indonesia. Algoritma tersebut nantikan akan menganalisis jawaban untuk memilih lebih dari 100 bahan aktif nabati untuk membuat formula skincare yang dipersonalisasi setiap orang.

Para calon konsumen ini hanya perlu waktu sekitar lima menit untuk menyelesaikan kuesioner yang diberikan oleh base. ‘’Perawatan kulit yang dipersonalisasi ini akan cocok dengan jenis kulit, tujuan kulit, dan gaya hidup dengan menggunakan bahan vegan, halal, dan ECOCERT,’’ ungkap Yaumi kepada Vogue Singapore.

Tak hanya mengusung konsep Halal Beauty, Base juga ingin mengkampanyekan bahwa setiap orang itu unik, sehingga skincare yang dibutuhkan pun harus mengikuti keunikan masing-masing. Semua tertuang dalam kampanye Base, yaitu ‘’You Are Unique. So Is Your Skin.’’

  1. Esqa

Setelah lama tinggal di Los Angeles, Amerika Serikat, selama delapan tahun, Cindy Angelina dan Kezia Toemion kembali ke Indonesia untuk mengisi celah besar dalam industri kosmetik Indonesia. Sejak pertama kali diluncurkan pada Juni 2016, Esqa mengkampanyekan dirinya sebagai pelopor merek konsmetik vegan pertama di Indonesia.

Namun kemudian Cindy dan Kezia sadar bahwa perhatian para wanita Indonesia akan sertifikasi halal ternyata sangat tinggi. Para konsumennya ingin mereka dijamin keamanan dan kenyamannya saat bersolek menggunakan produk mereka.

‘’Memiliki sertifikat halal sangat penting bagi brand kecantikan, karena bahan-bahan yang sehat kini menjadi salah satu pertimbangan utama pelanggan,’’ ungkap Cindy dan Kezia kepada Vogue Singapore.

Hingga akhirnya merek kosmetik ini pun sudah mengantongi sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan mereka mengklaim bahwa tidak ada kandungan hewani sedikit pun di dalam produknya.

Bahkan Esqa menjadi satu-satunya merek kosmetik lokal yang mampu bertengger di salah satu gerai kosmetik dan kecantikan multinasional asal Prancis, Sephora. Esqa dianggap sudah memenuhi standar internasional sehingga kehadirannya di Sephora mampu menarik daya tarik dan daya saing antara merek lokal dan merek luar negeri.

  1. Rosé All Day

Bagi kaum hawa, pasti sudah kenal dengan produk lipstik multifungsi. Maksud multifungsi di sini adalah formula produk lipstik yang tidak hanya bisa digunakan di bibir saja, melainkan di pipi sebagai blush on, dan bahkan bisa dijadikan riasan mata atau eyeshadow.

Ternyata salah satu merek yang pertama kali mempopulerkan produk lipstik multifungsi itu adalah Rosé All Day. Kepada Vogue Singapore, Co-Founder Rosé All Day, Tiffany Danielle, mengaku bahwa produknya sempat membuat ‘’resah’’ para pemain kosmetik yang sudah ada.

‘’Sejak peluncuran pertama kami, kami mengganggu industri kecantikan dan memperkenalkan produk inovatif ke pasar,’’ katanya.

Ini karena Rosé All Day juga mulai mengkampanyekan tata rias ‘’tanpa riasan’’ atau ‘’no make-up’’ make up. Dan riasan ringkas dengan hanya menggunakan satu produk, yaitu lipstik. Dengan produk ini, wanita masih bisa mempercantik diri yang sudah memenuhi kebutuhan merias bibir, pipi, dan mata sekaligus.

Awalnya, mereka tak memiliki sertifikat halal. Namun, melihat para konsumen sangat mementingkan soal keamanan bahan, akhirnya tim Rosé All Day pun mengupayakan untuk sertifikasi halal. Toh, semua bahan yang mereka gunakan memang premium dan berkualitas tinggi, yang memang tidak menyalahi aturan dalam Islam.

‘’Kami sangat berhati-hati dalam memilih bahan-bahan utama yang terkandung dalam produk kecantikan kami,’’ ungkap Tiffany.

Itulah tiga merek kosmetik Indonesia yang dianggap turut memelopori kampanye Halal Beauty dan terbukti memberikan implikasi yang besar, khususnya di Asia Tenggara. Dari tiga merek itu, adakah produk yang masuk dalam daftar kosmetikmu?



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here