Pahlawan Kreatif Yang Masih Terbelenggu

  • Whatsapp
Pahlawan Kreatif Yang Masih Terbelenggu



PramborsNews.com – Di tengah mentalitas pecundang yang melumpuhkan prestasi bangsa, seorang musisi prodigy asal Bali, Joey Alexander, mengibarkan bendera Indonesia menjulang tinggi di belantika musik dunia. Pertama kali dalam sejarah Grammy Awards, seorang bocah usia dua belas tahun dinominasikan dalam dua kategori Grammy, untuk pencapaian luar biasa dalam kreativitas improvisasi musik jazz.

Dengan jalur berbeda, Alif Gustakhiyat atau lebih dikenal dengan sebutan Alip Ba Ta, gitaris fingerstyle Indonesia, meraih popularitas di pentas dunia melalui unggahan di media sosial YouTube. Dengan kesederhanaan hidup sebagai supir folklift dan kebersahajaan penampilan, sentuhan magic permainan gitar akustiknya menghipnotis banyak jiwa seantero dunia, yang mengharumkan nama bangsa.

Di luar itu, ada jutaan anak berbakat lainnya terus terpendam. Tak seberuntung Joey yang menemukan ekosistem kreativitas yang kondusif, bahan-bahan “batu mulia” lainnya tetap teronggok di tempatnya tanpa wahana yang bisa menggosoknya jadi permata.

Alhasil, kreativitas tak sekadar menyangkut soal bakat. Orang berbakat hanya akan jadi pribadi kreatif bila menemukan ekosistem kreativitas yang dihasilkan oleh interaksi sistemik dari domain simbolik (budaya kreatif), bidang pendukung, dan talenta itu sendiri.

Kurang berkembangnya kreativitas di negeri ini karena lemahnya dukungan politik terhadap reproduksi pengetahuan dan pengembangan minat-bakat, pemuliaan warisan budaya, serta kegiatan riset dan pengembangan.

Negara ini juga tak sungguh-sungguh menggalang politik kebudayaan yang dapat memperluas bidang pendukung kreativitas, seperti infrastruktur riset dan pustaka, gedung pertunjukan dan pameran, sarana tekno-estetika, studio seni, pusat inkubasi, komunitas epistemik, gugus kendali mutu, jaringan media, galeri, kurator, kritik seni, promosi budaya secara internasional.

Sebagai bangsa multikultur dengan kelimpahan warisan tradisi budaya, Indonesia berpotensi sebagai superpower budaya dunia. Namun, tanpa dukungan politik kreativitas, banyak anak berbakat lekas layu sebelum berkembang atau berhenti sebagai jago kandang.


Oleh: Yudi Latif

Advertisement. Scroll to continue reading.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *