Kawan GNFI, siapa yang tak kenal produk Eiger, sebuah jenama/brand lokal yang telah merambah skala dunia. Di bawah kepemimpinan Ronny Lukito, PT Eigerindo Multi Produk Industri (Eiger MPI) selaku payung usaha Eiger, sederet produk kenamaan pun telah merambah mancanegara. Sebut saja Nordwand, Morphosa, World Series, Extrem, Vertic, Domus Danica, serta Broklyn.

Bahkan merek dagang Osprey yang merupakan jenama outdoor top di AS, menitipkan pemasarannya di Indonesia pada ritel Eiger. Eigerindo MPI juga tercatat sebagai salah satu perusahaan ritel terbesar di negeri ini.

Selain menggunakan produk asli buatan Indonesia dan merekrut pengrajin dan mitra yang semuanya masyarakat lokal, dalam pemasarannya Eiger juga cukup jeli dengan melakukan kerjasama dengan para petualang-petualang Indonesia.

Sebut saja nama-nama yang saat ini menjadi brand ambassador Eiger untuk kawasan domestik dan mancanegara, yakni Ramon Y. Tungka (Traveller Enthusiat) dan Jeffrey Polnaja (Motorcycle Adventure Enthusiast), Fiersa Besari (Storyteller), Eddi Brokoli (Entertainer), dan masih banyak lagi.

Upaya Eiger untuk mengenalkan produk lokal ke kancah internasional, tentu harus mendapat apresiasi. Belum lagi perusahaan ini adalah salah satu perusahaan ritel yang tak memecat karyawannya saat pandemi Covid-19, ketika semua perusahaan besar pun melakukan perampingan dengan merumahkan karyawan atau memutuskan hubungan kerja (PHK).

Sekali lagi, terkait hal ini kita patut mengapresiasi.

Respek yang terputus

Belakangan, nama Eiger kembali mencuat ke permukaan dan ramai dibincangkan di media sosial. Kali ini bukan soal prestasi, tapi soal respek yang terputus.

Perusahaan yang susah payah dibangun oleh Ronny Lukito sejak 1993 ini harus tercoreng akibat selembar surat peringatan. Surat peringatan yang dimaksud ditujukan kepada seorang Eigerian–julukan fans Eiger/pengguna produk Eiger–terkait konten yang dibuatnya di kanal youtube.

Pihak perusahaan merasa keberatan dengan konten yang dibuat oleh pemilik akun youtube duniadian (Dian Widiyanarko). Keberatan perusahaan terkait soal teknis yang meliputi kualitas video, audio, serta seting lokasi pembuatan video review.

viral surat eiger

Padahal, di laman facebook miliknya Dian mengaku jika ia tak mendapatkan produk yang ia review–kacamata–itu secara gratis, alias beli. Ia pun tak di endorse pihak Eiger untuk membuat video di kanal youtube-nya. Pendek kata, video yang ia buat merupakan inisiatif pribadi yang bercerita tentang produk kacamata Eiger.

Setelah penulis lihat dalam video tersebut, tak ada tendensius atau hal yang sifatnya menjelekkan produk kacamata buatan Eiger. Bahkan dari judulnya pun cukup jelas ”REVIEW Kacamata EIGER Kerato | Cocok Jadi Kacamata Sepeda”.

Kawan GNFI bisa melihat videonya di tautan berikut.

Akibat surat tersebut, respons warganet pun membeludak. Isinya ada yang antipati terhadap produk Eiger, ada yang tak lagi respek dengan produk Eiger, dan komentar-komentar lain yang sebetulnya terlalu banyak untuk dijabarkan.

Bahkan tagar #eiger masuk dalam trending twitter pada Kamis malam (28/1/2021) hingga Jumat pagi (29/1). Jelas, ini preseden buruk bagi Eiger.

Respons dan kebesaran hati

Melihat kegundahan dan cibiran warganet yang semakin masif, pihak manajemen Eiger akhirnya berinisiatif melakukan langkah cepat untuk meminta maaf secara langsung kepada Dian.

Dalam unggahan di twitter (28/1), melalui akun resmi @eigeradventure sekira pukul 22:37 WIB, CEO Eiger meminta maaf dan menyampaikan bahwa pihaknya salah dengan apa yang telah terjadi.

permohonan maaf CEO eiger

Kemudian pada Jumat (29/1), secara resmi di laman facebooknya, pihak Eiger juga menyampaikan surat terbuka permohonan maaf kepada seluruh Eigerian terkait kasus ini. Dalam surat berjudul ”Surat Cinta untuk Eigerian” itu mereka berjanji akan lebih baik lagi dan belajar dari kesalahan.

”Kami mendukung kebebasan Eigerian dalam menyampaikan kritik dan saran terhadap produk kami melalui media apa pun. Bagaimana pun cara dan hasilnya, Itu semua menjadi masukan yang berharga bagi kami,” demikian bunyi penggalan surat terbuka tersebut.

surat terbuka eiger

Merespons surat permintaan maaf ini, Dian Widiyanarko melalui laman twitternya (@duniadian) mengungkapkan bahwa ia telah menerima permintaan maaf dari Eiger dan berharap ini bisa menjadi pembelajaran bersama.

“Oke. Sama-sama. Semoga bisa jadi pembelajaran bersama. Banyak pelajaran berharga dari kasus ini. Soal PR, branding, handling crisis, dan sebagainya,” tulis @duniadian dikutip pada Jumat (29/1).

Lantas, apa yang bisa kita pelajari dari respek yang terputus ini.

Yang pertama menjadi sorotan adalah keiklasan Dian Widiyanarko yang merespons dengan cara yang positif. Kemudian yang kedua adalah bagaimana Eiger melakukan gerak cepat dengan melakukan permohonan maaf atas sebuah kesalahan.

Jika ini dibiarkan, boleh jadi akan berdampak pada produk penjualan Eiger serta kehilangan respek konsumen terkait produk-produk Eiger. Memang, tak ada sesuatu yang sempurna.

”Kesempurnaan hanya milik Allah,” demikian Bunda Dorce Gamalama sering bilang.

Satu hal yang patut kita ingat, kawan, adalah upaya Eiger untuk terus mengibarkan nama besar Indonesia di kancah internasional melalui produk-produk berkualitas. Belum lagi soal perekrutan SDM lokal guna mendayagunakan serta meningkatkan ekonomi masyarakat lokal.

Eiger boleh jadi ”terpeleset”, tapi sejatinya dengan apa yang sudah dilakukan Eiger untuk mengharumkan nama bangsa ini, sudah selayaknya kita memaafkan dan mengapresiasi.

Semoga respek ini tak lagi terputus, dan Eiger terus bisa membanggakan bangsa Indonesia melalui karya cipta mereka.

Salut untuk Eiger, salut untuk Dian Widianarko atas kebesaran hatinya.



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here