Robek Kebhinekaan, Hoax Biang Kerok Pemecah Persatuan Bangsa

  • Whatsapp
Sosialisasi dan kampanye anti hoax, hoax disinyalir sebagai ancaman demokrasi di Indonesia. FILE/Helmi Fithriansyah



PramborsNews.com – Hoax yang banyak tersebar di media sosial (Medsos) sering menimbulkan keresahan di masyarakat. Bahkan, berita bohong ini bisa mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Apalagi jika masyarakat belum memiliki literasi digital yang memadai untuk menanggulangi hoax.

Ketua Masyarakat Indonesia Antihoax (MIAH) Septiaji Eko Nugroho pernah menyebutkan bahwa hoax telah menyebabkan banyak keluarga tak harmonis, perkawanan putus, dan terjadi kerusuhan di berbagai daerah akibat ‘termakan’ berita hoax.

Yang menjadi pertanyaan kini, mengapa ada saja orang yang menyebarkan berita tidak benar? Menurut Khanis Suvianita, aktivis dan mahasiswi program S3 untuk studi antar agama, maraknya peredaran berita hoax tidak dapat dilepaskan dari orang atau pihak yang bertindak sebagai pembuat atau penyebar berita hoaks itu.

Dilihat dari sisi psikologis, lanjutnya, pembuat dan penyebar berita hoaks adalah pribadi yang ingin dikenal dan diakui keberadaannya oleh orang lain, melalui sesuatu yang ia hasilkan atau bagikan.

Khanis menilai, demokrasi dan sosial media telah memberi ruang bagi pembuat berita hoax untuk menciptakan narasi atau cerita, lalu membagikannya. Kemudian orang ingin diakui bahwa dia benar.

Merobek Kebhinekaan

Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono dalam suatu kesempatan berujar bahwa efek hoax berbahaya, yakni bisa merobek-robek Bhineka Tunggal Ika. Dia pun mengingatkan semua masyarakat untuk mawas diri dan menjaga kebhinekaan.

Wakapolri juga mengatakan bahwa merupakan satu kepastian bagi masyarakat untuk melakukan cek dan ricek, apabila mendapatkan suatu berita ataupun kabar. Telitilah terlebih dahulu kebenarannya agar tidak menimpakan kerugian pada diri sendiri ataupun orang lain.

Dia pun menegaskan, berdasarkan data yang ada, dampak hoax dan disinformasi berdampak buruk bagi masyarakat. Dimulai dari yang terkecil, bisa menyebabkan generasi muda jadi kontraproduktif karena waktunya tersita akibat terlalu sering melihat berita di media sosial.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Padahal keberadaan berita itu belum tentu benar dan bisa dipertanggungjawabkan. Juga bisa menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap suatu fakta. Selain itu, dampak yang paling mengancam adalah dapat memicu perpecahan.

Pada kesempatan lain, Presidium Mafindo, Rovien Aryunia juga pernah menekankan peran masyarakat meredam penyebaran hoax. Menurutnya, peran serta masyarakat sangat dibutuhkan untuk membantu melawan hoaks yang masif.

Gerakan melawan penyebaran hoax juga telah dilakukan oleh Mafindo, antara lain lewat edukasi dan penyampaian berita yang benar kepada masyarakat, baik melalui sosialisasi langsung kepada maupun melalui media sosial.

Dia pun mengingatkan agar masyarakat selalu menggunakan media sosial dengan sebaik-baiknya. Masyarakat diminta berhati-hati dalam mengunggah konten apapun dengan selalu mengecek sebelum membagikan informasi.

Penyebab Hoax

Hal sama diungkapkan oleh artis dan produser film, Annisa Putri Ayudya. Dia mengingatkan masyarakat pengguna medsos untuk tidak terburu-buru mengirimkan informasi yang diterimanya dalam menghadapi isu terkini. Sebelumnya, perlu ada pengecekan melalui instansi tepercaya yang menguasai isu yang sedang beredar.

Annisa pun mengatakan, ada tiga penyebab atau motif masyarakat pengguna medsos menyebarkan hoax. Pertama karena orang tersebut memang tidak tahu, sehingga langsung menyebarkan begitu saja ke grup WhatsApp atau lainnya.

Orang-orang itu merasa berita yang mereka terima itu dianggapnya penting. Padahal mereka tetap harus mengecek dulu ke sumber yang bersangkutan, baik sumber primernya maupun sumber sekunder yang sudah mengirimkan berita tersebut.

Kedua, menurutnya, tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat Indonesia suka sekali dengan ‘drama’. Ketika ada hal yang menarik, lalu tanpa cek dan ricek langsung menyebar informasi tersebut. Tujuannya untuk membuat opini di komunitasnya bahwa si penyebar berita itu adalah orang yang paling tahu duluan mengenai informasi tersebut

Hal tersebut, berkaitan dengan gengsi tentang ke terupdate-an dari masyarakat Indonesia. Sebagian orang Indonesia merasa bahwa melakukan up to date informasi itu adalah sesuatu yang mewah tertentu. Orang ini pun lupa untuk memastikan bahwa berita yang dia sampaikan ternyata tidak sepenuhnya benar. Lalu yang ketiga, menurut Annisa, bisa jadi memang hoax itu sengaja disebar karena memang ada tujuan tertentu. Dan tentunya ini yang bahaya sekali karena dapat memecah persatuan dan persaudaraan di bangsa.

Advertisement. Scroll to continue reading.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *