Deretan bebatuan purba yang menyerupai ombak itu tepatnya berada di Dukuh Bogoran, Desa Jotangan, Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Bentuknya panjang terurai dari bongkahan batu padas berwarna putih memanjang yang mencapai 240 meter.

Bongkahan batu itu bahkan mengarungi perbukitan yang berada di ketinggian 150 meter. Hingga kini bongkahan batu itu terkenal dengan Watu Sepur.

Rangkaian batu yang mengular panjang itu juga menjadi batas antara zona gunung yang merupakan lahan yang dikelola pemerintah dan tanah warga masyarakat. Banyak masyarakat yang datang ke Watu Sepur karena ingin menikmati pesona kesejukan hutan, keindahan pemandangan alam, dan rangkaian bebatuan yang unik.

Wajar saja jika Watu Sepur bisa menyuguhkan pemandangan yang indah. Pasalnya Watu Sepur ini berada dalam gugusan pegunungan Kembang Sari yang membentang dari utara ke selatan yang persis berada di timur obyek wisata Rowo Jombor.

Selain Watu Sepur, di sini juga para pengunjung akan melihat peninggalan batu fosil lainnya yang konon kerap dijadikan obyek religi. Sebut saja Watu Galar, Watu Payung, Watu Jaran, Watu Lawang, dan masih banyak lagi.

Meski baru diresmikan pada September 2018 lalu, Watu Sepur menjadi salah satu ikon wisata Bayat dengan mengangkat wisata geoekologi yang sangat kaya. Untuk diketahui, wilayah Bayat—termasuk kawasan Watu Sepur—adalah wilayah yang mempunyai jenis batuan yang paling komplit untuk penelitian geologi.

Jenis batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf, semuanya ada di sini.

Bayat Adalah Satu dari Tiga Wilayah yang Punya Batu Fosil Tertua

Watu Sepur di Bayat

info gambar

Pulau Jawa memang dikenal sebagai wilayah yang mengandung banyak ‘’misteri’’. Bahkan dianggap sebagai tempat berkumpulnya makhluk pra sejarah karena banyak ditemukannya spesies purba di sini. Termasuk soal bebatuan.

Bayat sendiri merupakan daerah yang berupa bebatuan metamorf yang diketahui sudah mencapai umur 98 juta tahun. Hanya ada tiga lokasi serupa di Pulau Jawa yang memiliki bebatuan seperti ini. Selain di Bayat, ada pula di Karangsambung (Jawa Tengah) dan Ciletuh (Jawa Barat).

Di antara ketiga wilayah tersebut, Bayat merupakan daerah yang memiliki fosil organisme dan aktivitas magmatis tertua di Pulau Jawa.

Salah satu wilayah yang juga terkenal memiliki banyaknya ‘’misteri’’ batu fosil di Bayat adalah Perbukitan Jiwo. Menurut para ahli geologi, perbukitan ini memiliki varias batuan yang unik dan lengkap. Bahkan struktur rangkaian batuannya juga termasuk dalam posisi lingkungan tektonik yang hingga kini belum diketahui secara jelas.

Tak heran jika para peneliti, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, kerap menilai Perbukitan Jiwo sebagai daerah yang kondisi geologinya sangat kompleks. Selain memiliki batuan metamorf yang masih kuat dan bertahan, tak jarang dijumpai juga batuan metamorf yang dalam kondisi lapuk. Hal ini seolah-olah mengaburkan analisis usia dari bebatuan fosil tersebut.

Akan Diajukan Sebagai Geoheritage, Sebelum Jadi Geopark

Geopark Ciletuh

info gambar

Pada 11 November 2020 lalu, Pemerintah Kabupaten Klaten sebenarnya sudah mewacanakan dan mengajukan sejumlah desa di Kecamatan Bayat, serta beberapa desa di Kecamatan WEdi untuk dijadikan kawasan wisata taman bumi atau geopark. Mengingat bahwa sejumlah desa terbukti memiliki potensi batuan dan fosil langka yang belum sepenuhnya diteliti maupun dianalisis.

Di Kecamatan Bayat, tempat Watu Sepur berada, ada beberapa desa yang memiliki potensi batuan dan fosil langka di dalamnya seperti Desa Tawangrejo, Desa Gununggajah, Desa Talang, Desa Jarum, Desa Paseban, Desa Krakitan, Desa Cakaran, dan Desa Kebon. Sementara untuk di Kecamatan Wedi, ada potensi besar di Desa Wungkal.

Kalau diperinci, setiap desa memiliki bebatuan fosil yang berbeda dan unik. Di Desa Jarum terdapat lava bantal. Di Desa Paseban terdapat gabro-serpentinit. Di Desa Cakaran ada yang disebut dengan bebatuan konglomerat alas. Di Desa Krakitan ada Rawa Jombong dan Gunung Kampang. Di Desa Kebon ada Bukit Pertapan.

Di Bukit Wungkal bahkan ditemukan batuan gamping berumur 44 juta tahun yang mengandung fosil munulites atau binatang bersel satu yang ukurannya cukup besar. Batu ini berserakan di tanah dan perlu dilestarikan.

Sebelum menjadi geopark, memang wilayah-wilayah ini akan diajukan dulu menjadi geoheritage. Hasil tinjauan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah dan Kementerian ESDM pun mengakui bahwa setidaknya ada 11 sampai 12 tempat yang layak untuk diusulkan karena memiliki potensi batuan dan fosil langka.

Selama ini pun kawasan perbukitan yang ada di Kecamatan Bayat sudah menjadi tempat penelitian hampir semua universitas di Indonesia yang memiliki Fakultas Geologi. Bukan hanya kampus dalam negeri, kampus luar negeri pun kerap datang ke sini. Universitas Gadjah Mada bahkan sudah menambatkan kampus lapangannya di kawasan tersebut.

Sumber: Klatenkab.go.id | Milesia.id | Mattanews.com | Kumparan.com | SuaraMerdekaSolo.com | Solopos.com



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here