Mohammad Said dan Ani Idrus adalah pasangan suami istri yang berprofesi sebagai jurnalis di Kota Medan, Sumatra Utara, pada era kemerdekaan.

Pada saat itu Mohammad Said merasa tergugah untuk menerbitkan surat kabar.

Dalam hatinya, tumbuh niat menerbitkan surat kabar dan bila terwujud akan ia beri nama Waspada.

Pemberian nama Waspada dilatarbelakangi oleh sikapnya yang selalu menganjurkan kepada kaum bapak dan semua orang agar senantiasa waspada dalam menghadapi berbagai kemungkinan yang akan terjadi.

Maklum, saat itu situasi di Kota Medan sedang mencekam karena diduduki oleh Belanda.

Suatu waktu Said bercerita: “Ketika itu, Januari 1947, penduduk Kota Medan berjumlah 300.000 orang. Keadaan sangat sepi karena banyak penduduk yang telah mengungsi. De facto Kota Medan saat itu diperintah oleh Belanda, menyusul timbang terima dari tentara Inggris. Di jalan-jalan hanya terlihat orang Tionghoa. Mereka dilindungi Belanda dan Poh An Tui.”

Ani Idrus bersama Mohammad Said saat diundang pemerintah

info gambar

Ternyata Tuhan mengabulkan niatnya. Waspada pun terbit pada hari Sabtu, 11 Januari 1947, dan menjadi salah satu surat kabar tertua di Sumatra Utara.

Mengutip dari Seabad Pers Kebangsaan, 1907-2007, kantor Harian Waspada berada di pusat pasar 126-Medan.

Saat itu harganya dibanderol 10 sen untuk berlangganan selama satu bulan. Jika tidak berlangganan, Waspada bisa dibeli dengan harga eceran 0,50 sen.

Berkali-kali Waspada dibredel Belanda, sehingga koran ini hidup Senin-Kamis.

Rekan jurnalis Said dan Ani, Rosihan Anwar, menuliskan mengenai pembredelan Waspada karena “ulahnya” dalam buku Sejarah kecil “Petite Histoire” Indonesia, Volume 3.

Ketika itu ia ditawar menjadi koresponden di Jakarta dan mengirimkan tulisan mengenai pertempuran antara Belanda dan pejuang republik di Jawa Barat.

Belanda tidak suka dengan pemberitaan itu sehingga Waspada pun dibredel.

“Said memberitahukannya kepada saya, tapi dalam suratnya tidak menyalahkan saya. Sebab pembredelan adalah risiko pekerjaan wartawan dari koran Kiblik di daerah pendudukan Belanda seperti Medan, Jakarta, dan lain-lain. Untunglah setelah beberapa hari Waspada diizinkan terbit lagi,” kenang Rosihan Anwar.

Mohammad Said dan istrinya, Ani Idrus, adalah wartawan yang dikenal dan akrab dengan masyarakat Sumatra Timur. Maka, ketika Waspada terbit kembali setelah dibredel, penjualan ecerannya laris di Pasar Kesawan.

Suatu hal yang unik, Harian Waspada mempunyai banyak pembaca di Provinsi Aceh.

Ani Idrus pernah muncul dalam wujud Google Doodle.

info gambar

Setelah Mohammad Said mengundurkan diri di tahun 1969, Ani Idrus mengambil alih pimpinan Waspada.

Jauh setelah kedua pendirinya tiada, Waspada masih terus hidup dengan menyesuaikan diri pada era internet dalam bentuk media online dan epaper selayaknya media/surat kabar tua kebanyakan.

Baca Juga:

Sejarah Hari Ini (20 Juni 1957) – Penyerahan Empat Unit Helikopter di Bandung
Sejarah Hari Ini (14 April 1973) – Majalah Bobo Terbit
Sejarah Hari Ini (8 Juni 2000) – Tabloid Soccer Ramaikan Kabar Sepak Bola

Referensi: Waspadaaceh.com | Ensiklopedia.kemdikbud.go.id | Taufik Rahzen dkk., “Seabad Pers Kebangsaan, 1907-2007” | Rosihan Anwar, “Sejarah kecil “Petite Histoire” Indonesia, Volume 3



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here