Tjong A Fie adalah tokoh Tionghoa abad ke-19 yang membangun jaringan bisnis perkebunan besar di Sumatra, Indonesia (saat itu Hindia Belanda).

Sosok kelahiran Guangdong, Tiongkok, merantau ke Hindia Belanda sejak remaja.

Ulet dalam berdagang plus pandai bergaul dengan banyak etnis membuat usahanya yang dikembangkan menjadi besar.

Ia dikenal sebagai filantropis sejati bagi warga kurang mampu sehingga dekat dengan masyarakat pribumi dan Tiongoa di Medan, kota tempat ia bermukim.

Setelah hidup selama lebih dari setengah abad, taipan dermawan itu wafat karena menderita pendarahan otak pada 4 Februari 1921.

Bukti kecintaan orang-orang pada Tjong A Fie bisa dilihat dari banyaknya orang-orang melayat di kediamannya di Medan.

Ribuan orang datang dari berbagai penjuru Sumatra bahkan dari luar pulau seperti dari Malaya, Penang, Singapura hingga Jawa.

Prosesi Pemakaman Tjong A Fie sendiri berlangsung dengan megah sesuai dengan tradisi dan jabatannya.

Empat bulan sebelum menghembuskan napas terakhir, ia mewasiatkan seluruh kekayaannya untuk Yayasan Toen Moek Toeng. Tjong A Fie meminta pada pihak yayasan agar membantu banyak orang tanpa membedakan golongan dan ras.

Referensi: Hiqmad Muharman Pilliangnasi, “Backpacking: Medan-Brastagi-Toba



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here