Penulis: Rifdah Khalisha

Seperti yang sudah Kawan ketahui, penduduk asli wilayah Jawa Barat berasal dari suku Sunda. Mereka menganut falsafah hidup silih asah, silih asih, silih asuh. Hal ini berarti dalam interaksi sosial, mereka memegang teguh nasihat untuk saling mengingatkan, saling mengasihi, dan saling membimbing.

Selain itu, masyarakat Sunda juga menjaga kedekatan kepada Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan. Makanya, tak heran jika kesuburan alam sangat memengaruhi peradaban di Jawa Barat. Mata pencaharian terbanyaknya ialah bertani. Mulai dari petani padi, sayur, buah, bunga, tebu, cengkih, kina, hingga teh.

Kalau Kawan berkunjung ke Puncak Bogor dan Cisarua, Kawan akan melihat mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani dan buruh pemetik teh. Keberadaan hijaunya hamparan perkebunan teh masih terjaga. Kawan tentu akan terpikat dengan udara segar dan asri di perkebunan ini.

Tari Panarat © Indonesiakaya.com

info gambar

Tari Panarat, tarian tradisional yang populer di Jawa Barat menjadi cerminan adat masyarakat yang penuh akan kekayaan Bumi Pasundan. Terinspirasi dari kegiatan para pemetik teh di beberapa daerah di Jawa Barat, terutama kawasan kebun teh Cisarua. Tarian ini juga sebagai upaya melestarikan dan mengenalkan kesenian Sunda ke masyarakat luas.

Kalau dahulu, penari hanya mementaskannya di kebun-kebun teh. Seiring berjalannya waktu, penikmat tarian ini kian bertambah. Kini, Kawan dapat menemuinya di berbagai acara dan pertunjukan, seperti acara sakral pernikahan, menyambut tamu besar, festival budaya, dan sebagainya.

Penari terdiri dari sembilan orang yang keseluruhannya perempuan. Mereka mengenakan kostum khas para pemetik kebun teh lengkap dengan atributnya, seperti bakul atau wadah anyaman rotan untuk menaruh petikan daun teh serta topi caping atau penutup kepala untuk menghindari panasnya terik matahari.

Tari Panarat © Indonesiakaya.com

info gambar

Di awal tarian, ada empat penari yang muncul dari dalam bakul. Lalu, para penari itu pun beranjak dari bakul dengan gerakan perlahan lemah gemulai. Mereka mulai mengenakan topi caping, seakan-akan penuh suka cita menyambut pagi hari yang mulai merekah.

Gerakan dan ekspresi penari memancarkan kegembiraan dan keceriaan. Mereka seakan-akan bersiap pergi menuju kebun teh dengan penuh semangat bekerja untuk menghidupi keluarga. Para penari memakai bakul di pundaknya seolah akan memulai kegiatan memetik daun teh.

Setiap gerakan tariannya terlihat jelas, mulai dari memetik hingga menunduk untuk meletakkan petikan daun teh. Menariknya, mereka memakai topi caping hingga menutupi sebagian wajahnya, persis selayaknya para pemetik teh yang Kawan lihat jika berkunjung ke perkebunan teh. Sesekali, para penari melepas topi caping dan berputar-putar sebagai bentuk kebahagiaan usai memetik teh.

Tari Panarat begitu terasa istimewa. Penarinya benar-benar mewakili para pemetik teh. Pementasan tarian ini juga semakin terasa hidup dengan iringan alat musik tradisional Jawa Barat, seperti gamelan dan kendang Sunda.

Referensi: Pemerintah Indonesia | Provinsi Jawa Barat



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here