Taufiq Kiemas Soko Guru Politiknya Ganjar Pranowo dan Puan Maharani

  • Whatsapp
Taufiq Kiemas Soko Guru Politiknya Ganjar Pranowo dan Puan Maharani



Proklamator. id – Menuju agenda perhelatan pesta politik yakni Pemilihan Presiden pada tahun 2024, informasi diberbagai media dengan cepat dan pesat penyebarannya. Salah satunya pemberitaan di media online adalah soal dinamika internal di PDI Perjuangan soal rekomendasi tentang siapa yang akan diusung melalui partai berlambang banteng tersebut, meskipun partai tersebut mempunyai kader yang cukup potensial dan strategis yakni Puan Maharani yang menjabat sebagai Ketua DPR – RI dan Ganjar Pranowo yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah 2 Periode.

Dinamika internal tersebut ditanggapi oleh Filsuf asal Indonesia yang sempat diberitakan diberbagai media massa, yang merupakan lulusan Sarjana Filsafat Universitas Indonesia mantan Dosen Doktoral Filsafat UI. Rocky merasa senang dan gembira atas dinamika partai penguasa atau kabinet yang menyebutkan baik Banteng vs Celeng maupun Celeng vs Cebong.

Salah satunya Dugaan Kegembiraan Rocky ketika kader PDI Perjuangan diduga mendeklarasikan calon presiden tanpa adanya keputusan secara resmi dari Ketua Umum Megawati Soekarnoputri. Hingga dugaan pembelotan kader tersebut, Bambang Wuryanto Diduga menyebutnya kader “Celeng”. Tentunya, dengan elektabilitas sementara survei Pilpres 2024, menempati posisi diatas, Ganjar Pranowo menilai bahwa kritik yang disampaikan oleh Bambang Wuryanto kepada kadernya adalah nilai positif agar beberapa kader untuk tertib dan taat, pasalnya internal PDI Perjuangan mengedepankan prinsip musyawarah mufakat untuk menentukan siapa calon presiden yang tepat untuk direkomendasikan.

Kedua Kader PDI Perjuangan, Puan Maharani dan Ganjar Pranowo pun juga didukung oleh berbagai macam relawan untuk mengusungnya menjadi presiden. Pasalnya kedua tokoh pun mempunyai jasa dalam membangun dan mereformasi birokrasi serta mempunyai kapasitas besar dalam pengabdian terhadap negara. Sehingga diketahui keduanya mempunyai latarbelakang nasionalis yang mempunyai semangat ajaran Bung Karno dalam membangun negara secara kolektif kolegial.

Baik secara tersirat dan tersurat bahwa Puan Maharani mendapatkan dukungan dari akar rumput, baik dikakangan kelompok relawan maupun kader yang mempunyai inistiatif secara individu atau segelintir orang untuk mendukung Puan Maharani sebagai Presiden. Salah satu pemberitaan dari media massa, beberapa kader PDI Perjuangan yang memasang baliho, dikarenakan ingin berkenalan dengan rakyat. Hingga menurut politisi Arteria Dahlan menyebutkan bahwa pemasangan tersebut sebagai wujud ekspresi kebanggaan bahwa PDI Perjuangan mempunyai Ketua DPR RI perempuan pertama di Indonesia. Selain itu, Salah satu relawan yang mendeklarasikan mendukung Puan Maharani yakni Generasi Pejuang Muda Nusantara (Gema Puan).

Selain itu, Ganjar Pranwo diusung oleh Relawan yang bernama ‘Ganjarist’, meskipun jikalau Ganjar Pranowo bisa menjadi Presiden Republik Indonesia, relawan tersebut dikabarkan tidak akan meminta berupa kompensasi jabatan maupun wujud lainnya. Sebagaimana disebutkan Ketua Umum Ganjarist, Mazdjo Pray menyebutkan gerakan tersebut murni kesadaran politik warga negara yang ingin menyampaikan aspirasi.

 

Perjalanan Kehidupan Ganjar Pranowo dan Puan Maharani

Kehidupan Ganjar Pranowo tidak semulus dengan anak pejabat lainnya yang mak ujuk-ujuk mempunyai jabatan strategis, baik dari pemerintahan maupun bisnis. Ganjar merupakan sosok yang perjuangan menjadi seorang pemimpin bukanlah hal yang instan. Melainkan perjalanan kehidupan secara realitas dan penggemblengan politik yang membentuk karakternya sebagai pejuang untuk rakyat, berjuang dan bekerja bersama rakyat.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Semasa kecilnya hingga beranjak pada dewasa merupakan tantangan Ganjar Pranowo dalam menjalani kehidupan. Sebagaimana dikutip dari buku Anak Negeri: Kisah Masa Kecil Ganjar Pranowo (2018), kelahiran 28 Oktober 1968 dari Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, nama aslinya adalah Ganjar Sungkowo yang mempunyai makna ganjaran dari kesusahan.

Ganjar mempunyai kedua orang tua dari sepasang S. Parmudji (ayah) dan Sri Suparni (ibu). Ayahnya berprofesi sebagai polisi berpangkat rendah, sedangkan untuk mencukupi dan menghidupi keluarga. Ibunya hingga jualan bensin untuk menamah pemasukan keluarga. Ya diketahui Anak-anaknya, salah satunya Ganjar turut membantu kedua orang tuanya karena keterbatasan dari sektor ekonomi.

Kepemimpinan Ganjar mulai nampak ketika menjadi ketua kelas abadi di SD Kutoarjo, mengikuti berbagai macam organisasi Osis, Pramuka di SMPN 1 Kutoarjo. Kemudian melanjutkan hijrah pendidikannya di SMA BOPKRI 1 Yogyakarta. Dengan kondisi jauh dari rumah, ia dikenal sebagai sosok mandiri, kreatif dan pantang menyerah.

Selanjutnya, Ganjar Pranowo melanjutkan pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, salah satunya gabung di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Selain suka berorganisasi, ia turut partisipasi berdemo menentang kekuasaan Orde Baru, dan menyukai hal-hal menantang lainnya, tapi itu dilakoninya hanya sebatas hobi. Tanpa disadari lambat-laun kesenangan itu membuatnya ‘terjerumus’ lebih dalam memasuki dunia politik.

Sehingga dengan kemampuan berpolitiknya Ganjar Pranowo, dipercaya untuk menjabat sebagai anggota DPR-RI dari Fraksi PDI Perjuangan, pada periode 2004 – 2009 ia dipercaya sebagai anggota Badan Legislasi DPR-RI dan Pansus RUU Partai Politik dan MD3. Selain itu, pada periode keduanya ia berada di Komisi II hingga Wakil Ketua Komisi IV DPR-RI.

Pada tahun 2013, ia dicalonkan dari PDI Perjuangan sebagai Gubernur Jawa Tengah. Diketahui kepiawaian dalam menjabat sebagai orang nomor satu di Jawa Tengah, ia dicalonkan kembali pada periode kedua dan menang.

Namun kiprah atau perjalanan kehidupan Ganjar Pranowo dipenuhi dengan kesederhaan. Berbeda dengan Puan Maharani yang merupakan putri dari pasangan Taufiq Kiemas dan Megawati Soekarnoputri. Meskipun sebagai cucu dari Proklamator Kemerdekaan RI, Soekarno (akrab sapaannya Bung Karno), ia dan keluarganya mendapatkan tekanan secara politik oleh Orde Baru dengan misi De-Sukarnoisasi.

Perempuan kelahiran di Jakarta pada 6 September 1973, pernah menempuh pendidikannya di SD Perguruan Cikini pada tahun 1982, SMP Perguruan Cikini 1988, dan SMA Perguruan Cikini 1991.

Perjalanan pendidikan Puan Maharani dilanjutkan di Jurusan Komunikasi Massa, FISIP Universitas Indonesia dengan perolehan gelar Sarjana pada tahun 1997. Ia belajar dan menyaksikan berbagai macam peristiwa tekanan politik oleh Orde Baru hingga terbentuknya PDI Perjuangan.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Perjalanan politiknya ketika menjabat sebagai pengurus DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Bidang Luar Negeri. Perjalanan Kariernya nampak ketika pada tahun 2009 ia menjadi Anggota DPR-RI pada Pemilu 2009 Daerah Pemilihan V Jateng yang meliputi Surakarta, Sukoharjo, Klaten dan Boyolali.

Kemudian ia terpilih kembali menjadi anggota DPR-RI Periode 2014-2019 dengan dapil yang sama. Namun Presiden Joko Widodo yang terpilih pada pertamanya menugaskan Puan Maharani menjabat sebagai Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dengan mengkoordinasikan tujuh kementerian.

Pasca itu, pada periode 2019-2024 ia terpilih menjadi anggota legislatif sekaligus menjabat sebagai Ketua DPR-RI berdasarkan suara pemilih terbanyak se-Indonesia.

 

Taufiq Kiemas Gembleng Pendidikan Politik Ganjar Pranowo dan Puan Maharani

Penggiringan isu soal pencalonan Pilpres 2024 selalu digoreng diberbagai media massa, seolah terjadi kerenggangan antara Ganjar Pranowo dan Puan Maharani. Hal tersebut diketahui ketika berbagai macam relawan saling mendukung satu sama lain. Tentunya, pertarungan isu antar kader nasionalis diakar rumput soal pembahasan pilpres yang masih jauh, menandakan tingginya pragmatisasi opportunis dalam berpolitik praksis.

Bagi penulis, bahwa Keduanya merupakan satu madzhab politik yang mempunyai jiwa nasionalis berangkat dari didikannya Taufiq Kiemas. Secara histrois, langkah awal dalam proses pemikiran politiknya secara bulat, yang mana pada saat itu Taufiq Kiemas gabung di GMNI menjadi laboratorium pemikiran dan perjuangan untuk merawat faham kebangsaan dan keindonesiaan. Oleh karena itu, Bung Karno pernah mengatakan kepada siapapun bahwa “Setialah Pada Sumbermu”.

Pidato Bung Karno pada peringatan Hari Kebangunan Nasional, 20 Mei 1952 yang berjudul Setialah Kepada Sumbermu. Pidato itu niscaya memukau: “ … mengalirlah sungai itu terus … mengalirlah ia terus, dengan kita di dalamnya, dengan generasi yang akan datang pun di dalamnya, mengalirlah ia terus, ke lautan besar – lautan besarnya keagungan bangsa, lautan besarnya kesentosaan negara, lautan besarnya kesejahteraan masyarakat, lautan besarnya kebahagiaan kemanusiaan … door de zee op te zoeken, is de rivier trouw aan haar bron – dengan mengalirnya ke lautan, sungai setia kepada sumbernya”.

Taufiq Kiemas dikabarkan gabung di GMNI dengan alasan mengagumi sosok Bung Karno, mempunyai watak yang tegas dan bijaksana dalam menyelesaikan persoalan negara. Ia merasa tersihir dengan pidatonya Bung karno soal pemberontakan gerakan PRRI/Permesta. Kemudian ia merasa kagum dengan sosok Bung Karno sebagai Presiden Republik Indonesia.

Puan Maharani, yang  merupakan perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR-RI, pernah mendapatkan “gemblengan” pendidikan politik oleh Gurunya berupa pengalaman politik dari Ayahnya, yakni Taufiq Kiemas dan Ibunya yaitu Megawati Soekarnoputri.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Meskipun dengan situasi politik Orde Baru yang mencoba mendekonstruksi pemikiran pancasila Bung Karno melalui Pancasila azaz tunggal dan butir-butirnya yang absolut. Pernyataan tersebut disampaikan olehnya melalui peringatan sewindu kepergian sosok Almarhum Taufiq Kiemas ke pangkuan Illahi. Haedar Nashir dalam sambutannya menuturkan Taufiq merupakan tokoh bangsa yang perannya melintasi batas dan sosok humanis sekaligus sangat dekat dengan segala elemen bangsa, termasuk keluarga besar Muhammadiyah.

Salah satunya pengalaman dari Puan Maharani Pertemuan antara politikus senior PDIP Taufiq Kiemas menemui Presiden SBY dengan memberikan buku “Gelora Kebangsaan Tak Kunjung Padam” di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (26/12). Buku tentang 70 Tahun Taufiq Kiemas itu rencananya diluncurkan pada 31 Desember 2012 bertepatan dengan tanggal kelahiran suami dari Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri.

Pesan dari Ayahnya Taufiq Kiemas, Puan Maharani bahwa perjuangan untuk masyarakat sebaiknya dilakukan dengan terjun langsung. Dari situ, ia pun bergerak dan ingin melanjutkan perjuangan ayahnya yang sekian lama melintang di seantero republik ini dengan dedikasi, loyalitas mengabdi terhadap nusa bangsa dan negara.

Disisi lain, Puan Maharani pun mengenal sosok Taufiq Kiemas sebagai negarawan yang egaliter dalam komunikasi dan mahir dalam lobi politik, meskipun pembelajaran tersebut tidak sehari – dua hari. Dengan mengedepankan prinsip pluralisme, merangkul semua elemen dengan beda warna, mengemas politik yang lentur dan fleksibel, tetapi berprinsip. Salah satunya Taufiq Kiemas dikenal sebagai penggagas sosialisasi 4 pilar MPR-RI yang memuat Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila

Dan tak lupa, Ganjar Pranowo juga mendapatkan pendidikan politik praksisnya ketika pertemuan pertamakali dengan Taufiq Kiemas dan Megawatisoekarnoputri. Hal tersebut ketika adanya perbincangan dari Pimred Kompas.com, Wisnu Nugroho dengan Gubernur Jawa Tengah di Rumah Dinas Puri Gedeh. Sepanjang perjalanan Ganjar Pranowo pernah aktif di PDI pada tahun 1992, kemudian melanjutkan perjalanan nasibnya di Jakarta pada tahun 1996, kemudian menuju ke Rumah Megawati Soekarnoputri.

Salah satunya, ketika Taufiq Kiemas menginformasikan kepada Ganjar Pranowo, bahwa Gus Dur akan berkunjung kerumahnya jam 10 sekaligus minta dibuatin Indomie. Disisi lain, Ganjar sering dimarahin Taufiq Kiemas, namun Ganjar menilai bahwa amarah tersebut adalah sebagai bahan pembelajaran karakter untuk membentuk mentalitas politiknya.

Bahwa sosok Taufiq Kiemas pernah mengkritik dan memberikan semangat perjuangannya kepada Ganjar Pranowo. Disisi lain, Ganjar Pranowo mendapatkan pendidikannya agar berpedoman pada Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika yang dibingkai dalam Pluralisme dalam beragama, bersuku, berbudaya dll. Taufiq Kiemas adalah sosok orang yang selalu merangkul semua orang dan memberi kesempatan untuk melakukan berbagai dialog.

Ganjar menilai bahwa sosok Taufiq Kiemas dan Megawati Soekarnoputri merupakan sosok dengan dua karakter yang berbeda. Belajar soal keteguhan itu ada di Megawatisoekarnoputeri, sedangkan Taufiq Kiemas dikenal sebagai “Like A Brigde” atau jembatan meskipun berada di oposisi dengan Presiden SBY. Namun harmonisasi dapat dibangun dengan baik.

Bahkan, sebelum menjelang akhir hayatnya, Taufiq Kiemas menjadikan dirinya sebagai Juru Kampanye Pemilihan Gubernur Jawa Tengah pada 2013 memenangkan Calon Guberunur Ganjar Pranowo. Namun Ganjar Pranowo mengurungkan niatnya Taufiq Kiemas dengan alasan kesehatan yang belum kunjung baik.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Aji Cahyono, Mahasiswa Master di UIN Sunan Kalijaga

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *