Dilansir dari Airspace-Review.com, Papua yang merupakan wilayah paling Timur Indonesia memiliki landasan pesawat terbanyak di Indonesia. Tercatat sedikitnya ada 362 landasan pesawat di Papua yang digunakan oleh sejumlah maskapai atau operator penerbangan sebagai ‘’bandara perintis’’ saat ini.

Lapangan terbang itu sudah meliputi skala internasional, nasional, hingga lapangan terbang kecil yang hanya beralaskan tanah dan rumput. Dan dari jumlah tersebut, diketahui 30 persennya didarati oleh pesawan terbang propeller tipe Twin Otter. Pesawat ini adalah satu satu tipe pesawat terbang yang menjadi andalan pilot yang harus mendaratkan pesawat di Papua.

Mengingat cuaca di Papua sangat sulit diprediksi dan sangat mudah berubah. Dari yang sangat cerah, berubah menjadi berkabut, dan dalam sekejap mata bisa turun hujan lebat. Belum lagi jalur penerbangan yang harus melintasi celah sempit antara gunung, bukit, dan kondisi lapangan terbang yang masih berubah tanah dan rumput.

Sayangnya dari jumlah tersebut, lebih dari 200 landasan pesawat di sana belum ada penjaganya. Kondisi landasan pesawat yang sangat sederhana, lalu terletak di puncak-puncak gunung yang sulit dijangkau dan terpencil inilah yang membuat landasan pesawat belum dapat dijangkau atau dijaga oleh aparat atau pihak-pihak terkait secara efektif.

Meski begitu salah satu bandara terbesar di Papua, Bandara Frans Kaisiepo memiliki lancasan pacu keempat terpanjang di Indonesia. Dibangun di atas litologi batu gamping (limestones) atau batu karang, Bandara Frans Kaisiepo memiliki landasan pacu sepanjang 3.570 m.

Baca: Kisah Bandara Frans Kaisiepo Papua yang Punya Penerbangan Langsung ke Hawaii

Untuk diketahui, bandara dengan landasan pacu terpanjang di Indonesia ada di Bandara Kuala Namu, Medan, dengan panjang 4.450 m. Posisi kedua ada di Bandara Hang Nadim, Batam dengan panjang 4.025 m. Posisi ketiga ada di Bandara Soekarno-Hatta, Banten dengan panjang 3.660 m.

Dan di posisi kelima setelah Bandara Frans Kaisiepo, ada Bandara Sultan Hassanudin, Makassar, dengan panjang lintasan 3.100 m.

Ngeri-Ngeri Sedap Mendarat di Landasan Pesawat Papua

Sensasi Naik Pesawat di Papua

info gambar

Kisah ini diungkapkan oleh Abdurrahman Aslam, salah satu anggota Tim Ekspedisi Bumi Cenderawasih Mapala Universitas Indonesia. Artikel kisahnya ditayangkan oleh Kompas.com pada 14 Agustus 2018 lalu.

Kala itu, Abdurrahman harus berangkat ke Kabupaten Teluk Bintuni dengan pesawat kecil dari Bandara Rendani, Manokwari. Jenis pesawatnya Cessna 208. Karena ukurannya yang kecil, pesawat ini hanya dapat diisi oleh 12 penumpang dengan tarif Rp300.000 per orangnya.

Konsep ‘’siapa cepat dia dapat’’ memberi kesempatan Abdurrahman untuk memilih posisi kursi penumpang persis di belakang kursi pilot. Saat terbang, kombinasi warna pemandangan biru dari laut timur Indonesia, hijau-coklat dari bentang pulau Papua dan bukit-bukitnya menghiasi pemandangan mata.

Bahkan rumah-rumah warga masih terlihat jelas karena pesawat tidak terbang terlalu tinggi.

Setelah 40 menit terbang, Bandara Merdey pun sudah terlihat. Pesawat pun siap mendarat. Namun, tiba-tiba…

‘’Cloud! Cloud!!’’

Terdengar suara panik dari sang co-pilot yang merupakan warga negara asing. Setelah teriakan tersebut, pesawat pun langsung menikuk tajam ke kiri dan kembali ke atas.

‘’Rasanya seperti menaiki salah satu wahana di Dunia Fantasi di Ancol,’’ ungkap Abdurrahman.

‘’Miring, mual, dan panik. Tiga kata yang dapat menggambarkan perasaan saya saat itu,’’ katanya lagi.

Kepanikan bertambah saat penumpang lain bercerita, ‘’Pesawat ini tidak dapat menembus awan. Bahkan jika wilayah bandara tertutup awan semua, kita bisa saja balik lagi ke Manokwari,’’ ujar seorang ibu yang duduk di sebelah Abdurrahman.

Miring, mual, dan panik itu bisa terjadi lagi jika pilot dan pesawat melihat kesempatan untuk segera mendarat. Karena kondisi cuaca yang tidak terprediksi, kesempatan-kesempatan itu juga kerap tidak terprediksi. Sehingga ketika ada kesempatan, pilot harus segera bertindak.

Pesawat-pesawat kecil ini memang harus memiliki kemampuan terbang di antara celah pegunungan Jayawijaya. Pilot pun mesti piawai mengendalikan pesawat dan meliuk-liuk di antara lereng pegunungan. Celah atau lereng pegunungan yang menjadi ‘’jalur’’ pesawat kecil ini disebut ‘’gap’’.

Dan dalam lingkup penerbangan perintis di Papua, sudah akrab dengan istilah Gap Bokondini, Wamena North Gap (Pass Valley), dan gap lainnya. Gap Bokondini menjadi yang paling populer karena posisinya sangat menguntungkan kawasan yang cukup luas untuk bermanuver. Secara statistik juga kondisi cuaca di Bokondini menjadi representasi kondisi cuaca di atas Wamena.

Bandara Perintis di Papua

info gambar

Ketika hampir tiba di landasan pacu bandara tujuan, tantangan berikutnya sudah menanti. Sebagian besar landasan pesawat di Papua memiliki permukaan tanah yang rata. Bukan berupa semen seperti pada landasan pacu bandara pada umumnya. Belum lagi kondisi lapangan penerbangan yang memiliki salah satu sisi berupa jurang yang cukup dalam.

Lebar dan panjang landasan pacu yang pendek pun membuat proses take off dan landing hanya bisa dilakukan dari satu arah. Oleh karena itu, keterampilan pilot sangat diuji.

Terkait cuaca, pada umumnya landasan untuk penerbangan perintis di daerah pegunungan hanya bisa digunakan sebelum pukul 10.00 WIT. Ini karena angin lebih tenang dan cuaca relatif cerah. Kalau penerbangan dilakukan di atas pukul 10.00 WIT, langit sudah mulai tertutup awan tebal dan cuaca mudah berubah.

Belum lagi kalau tiba-tiba seorang warga berteriak, ‘’Hey babi! Babi!! Belum saatnya kita makan daging cincang!!’’

Ya, pesawat-pesawat itu harus berhadapan dengan babi dan binatang liar di landasan pacu. Tak sedikit landasan pesawat di Papua ternyata merangkap menjadi jalan utama kendaraan bermotor, anak-anak sekolah, anjing, babi, dan binatang liar lainnya.

Seperti yang pernah dirasakan Abdurrahman di Distrik Merdey yang landasannya memiliki dua fungsi. Sebagai jalan utama dan sebagai landasan pacu.

Kalau Kawan GNFI ada yang punya pengalaman ‘’ngeri-ngeri sedap’’ naik pesawat di Papua?

Sumber: Abdurrahman Aslam, Pengalaman Pertama Naik Pesawat Perintis di Papua Barat (Kompas.com, 14 Agustus 2018) | Travel.Tempo.co | AirSpace-Review.com | AntaraNews.com | Papua.go.id



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here