Penulis: Rifdah Khalisha

Indonesia kaya akan minuman hangat tradisional. Biasanya, pedagang di pinggir jalan akan menjajakan minuman ini pada malam hari. Saat cuaca hujan dan udara dingin, minuman ini akan semakin laris diburu pembeli. Tak jarang pula untuk menemani waktu sore hari.

Kebanyakan minuman hangat di Indonesia terbuat dari jahe, tapi tetap saja setiap daerah punya ciri khas minumannya tersendiri. Namun, ada dua minuman yang sekilas terlihat mirip, namanya sekoteng dan wedang ronde. Bahkan, banyak orang mengira keduanya minuman yang sama.

Sekoteng dan wedang ronde memang sama-sama menggunakan kuah jahe. Kuahnya berasal dari jahe yang sudah dibakar dan dimemarkan, lalu direbus bersama air, daun pandan, gula putih atau gula kelapa, serta sedikit garam. Selain itu, keduanya juga menambahkan tumbukan kasar kacang tanah sangrai untuk menciptakan sentuhan rasa gurih.

Kalau Kawan perhatikan lebih jelas, akan terlihat berbeda dari segi isian. Yuk, cari tahu apa saja perbedaannya.

Sekoteng

Sekoteng © Id.tastemade.com

info gambar

Kedua minuman jahe ini populer di daerah yang berbeda, masyarakat Jawa Barat dan DKI Jakarta lebih mengenal sekoteng. Dalam budaya Jawa, sekoteng merupakan singkatan dari nyokot weteng yang berarti menggigit perut.

Menurut cerita, dahulu, masyarakat Tiongkok datang ke Indonesia dengan membawa minuman bernama sukothung, artinya sup empat buah-buahan, yakni kacang amandel, biji jali, biji teratai, dan lengkeng. Nah, sekuteng terinspirasi dari minuman tersebut, tetapi isinya berbeda karena disesuaikan dengan buah dan biji yang ada di Indonesia.

Umumnya, isian pada sekoteng lebih beragam dan ramai. Ada sagu mutiara, potongan roti tawar, pacar cina, dan kacang hijau sehingga sedikit lebih mengenyangkan. Selain itu, ada rasa getir yang khas dari kulit jeruk dan rasa legit dari susu kental manis.

Wedang Ronde

Wedang ronde © Lifestyle.okezone.com

info gambar

Masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur lebih mengenal wedang ronde. Sejarahnya berasal dari Tiongkok, sama dengan sekoteng. Konon, wedang ronde merupakan perpaduan dari tangyuan budaya Tionghoa dengan wedang jahe budaya Nusantara.

Tangyuan berarti bulatan bola-bola dalam kuah atau sup. Bola-bola ini terbuat dari tepung ketan, sama seperti ronde. Biasanya, tangyuan disajikan dalam kuah manis atau kaldu daging, sedangkan ronde disajikan dalam kuah jahe manis.

Wedang ronde lebih sederhana, ciri khas terletak pada kehadiran rondenya atau bulatan dari tepung ketan dengan isian kacang. Wedang ronde tidak menambahkan susu pada kuah jahenya. Tapi terkadang, ada pula penjual yang menambahkan kolang-kaling, potongan roti, dan agar tanpa rasa, makanya terlihat mirip dengan sekoteng.

Yang perlu Kawan ketahui, setiap penjual dan setiap daerah tentu memiliki variasi sekoteng dan wedang ronde yang berbeda. Meski begitu, manfaatnya tetap sama, pedasnya jahe bisa menghangatkan tubuh, menjaga kesehatan pencernaan, mengurangi flu, mengatasi nyeri sendi dan otot, dan masih banyak manfaat lainnya.

Kawan, tertarik menghangatkan tubuh dengan sekoteng atau wedang ronde?

Referensi: Kepo Indonesia | Pustaka Kuliner | Bobo | Kompas | Halodoc



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here