Indonesia kaya, Indonesia punya pariwisata. Indonesia telah masuk dalam kategori 10 besar negara terindah di dunia. Dilansir dari laman Rough Guides yang selama ini menjadi salah satu rujukan utama wisatawan dunia, menyebutkan bahwa Indonesia dianggap memiliki daya tarik berupa keindahan dan ketenangan pulau-pulau yang membentang dari timur ke barat, memiliki keanekaragaman flora fauna, dan suasana pedesaan yang damai.

Melihat peluang itu, Arief Yahya pada saat menjabat sebagai Menteri Kemenparekraf, memprakasai program sustainable tourism sebagai langkah untuk menggencarkan pariwisata yang berkelanjutan pada tahun 2019 lalu. Lantas, apa itu sustainable tourism?

Sustainable tourism adalah konsep pariwisata berkelanjutan dengan memperhatikan aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial, di mana kehadiran sektor pariwisata diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan maupun manusianya. Berwisata sekaligus melestarikan alam tanpa merusak, tentu menjadi salah satu langah dalam mendukung gerakan sustainable tourism. Bagaimana mewujudkannya? Ya, salah satunya berwisata menggunakan sepeda.

Di Yogyakarta sendiri, trend bersepeda telah menjamur sejak pandemi COVID-19 lalu. Tidak hanya itu, masyarakat kota dari Jakarta ataupun Jabodetabek datang ke Jogja untuk liburan dan mencari “udara segar”. Berwisata telah menjadi suatu kebutuhan dan seperti ajang untuk “balas dendam”, karena PSBB beberapa waktu yang lalu.

Berwisata menggunakan sepeda menjadi salah satu alternatif pilihan untuk menikmati alam dan udara segar. Lalu, adakah tur sepeda yang menyajikan paket wisata menikmati alam, sekaligus berkonsep sustainable tourism di Jogja? Tentu saja ada.

SAMOA ikut menanam padi bersama petani di Nanggulan

info gambar

Kawan dapat mengunjungi salah satu bike tour di Yogyakarta, yaitu MOANA Bike Tour. Dengan rute tur di Nanggulan, Kulon Progo, tur ini memiliki konsep sustainable tourism.

Aspek lingkungan

Tur menggunakan sepeda sangat ramah lingkungan karena tidak memberikan polusi dan dampak negatif untuk lingkungan. Selain itu, wisatawan juga diwajibkan untuk membawa botol minuman sendiri.

Dalam hal ini, tempat tur hanya menyediakan galon sehingga untuk mereka yang ingin minum bisa mengambil air dari galon yang sudah disediakan. Secara tidak langsung ini juga akan mengurangi penggunaan botol plastik.

Aspek Sosial

Wisatawan yang tur bersama akan dibawa ke beberapa rumah warga untuk melihat proses pembuatan lokal produk Dusun Pronosutan, seperti proses pembuatan jamu, tempe benguk, tahu, dan geblek. Tidak hanya itu, mereka juga akan melihat warga dalam beternak seperti bebek maupun kambing.

Jika tur dalam waktu tanam padi, mereka akan diajak untuk mencoba turun ke sawah untuk menanam padi bersama masyarakat. Harapannya, wisatawan yang diajak sepedaan bisa berbaur dengan masyarakat sekaligus bersyukur dan menghargai proses.

Aspek ekonomi

Wisatawan yang tur bersama juga turut serta memberikan dampak positif untuk warga sekitar. Kenapa? Sebagian uang dari tur akan didonasikan untuk warga lokal sehingga perekonomian masyarakat juga ikut terbantu.

Produk lokal juga dikenalkan melalui tur ini. Dengan mensupport produk lokal maka secara tidak langsung juga akan mensupport perekonomian negara.

Jadi, apakah Kawan GNFI tertarik menjadi traveler yang turut serta mendukung gerakan sustainable tourism? Selamat mencoba!*



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here